Menyangkal Perbuatan Buruk

 Budaya, Madura, Sosial

Di dunia ini, mungkin anda akan selalu mengharapkan kebaikan dan keindahan menjadi milik anda. Mungkin anda adalah tipekal orang seperti saya yang tidak suka dengan hal-hal berbau anarkis, penuh penyimpangan dan juga tindakan jahat lainnya. Tetapi, terkadang hidup tidak selurus itu, hidup selalu penuh dengan dinamika, salah satunya yaitu dengan terciptanya perbuatan baik dan buruk yang berasal dari pemikiran dan perbuatan manusia.

perbuatan tidak baik

Untuk itu, anda harus berani melawan dan menyangkal keburukan. Menyangkal keburukan, sama baiknya dengan melakukan kebaikan. Ketika kita tekun melakukan kebaikan, kita akan disuguhi dengan beragam perbuatan dan tindakan keburukan dari orang lain. tetapi, ketika kita menyangkal keburukan, berarti kita sudah ada niat besar untuk tidak masuk kepada perbuatan orang-orang yang selalu melakukan keburukan.

Salah satu adagium orang Madura yang patut untuk didengarkan dan juga dipahami serta dipraktekkan oleh masyarakat adalah “mon etobi’ sake’ ajje’ nobi’ oreng laen” artinya kalau anda disakiti oleh orang merasa sakit, jadi janganlah menyakiti orang lain. Ini merupakan sebuah nasehat, bahwa kita sebenarnya ditentukan oleh diri kita sendiri. Kita ditentukan oleh sikap, tindakan serta ucapan kita sendiri. Ketidakmampuan kita menjaga semua ucapan serta tindakan yang ada pada diri kita, akan menyebabkan diri kita selalu penuh dengan perkara yang runyam.

Belajarlah untuk menyangkal perbuatan buruk seperti pepatah Madura tadi. Salah satunya yaitu dengan cara tidak menyakiti orang lain.

Persoalannya, bagaimana kalau kita yang disakiti? Haruskah kita hanya diam atau melakukan tindakan yang sama ; membalas seperti apa yang mereka lakukan. Saya kira, sejarah sudah menghamparkan banyak kebijakan yang bisa kita ambil, sejarah telah menyuruh kita untuk belajar. Kebesaran Nelson Mandela, bapak yang penuh kebijaksanaan dari Afrika Selatan yang fenomenal itu patut dijadikan contoh, karena ia tidak membalas setiap perbuatan buruk yang dilakukan orang lain kepada dirinya. Nabi Muhammad adalah contoh serupa. Ia tidak pernah membalas perbuatan buruk yang dilakukan orang lain kepada dirinya, termasuk tindakan jahat yang selalu ia terima dari orang lain. Ia tidak membalas, akibatnya ia memiliki kebesaran jiwa. Mereka berdua, adalah contoh bahwa kebesaran jiwa diciptakan dari adanya semangat untuk tidak melakukan keburukan sebagaimana orang lain melakukan keburukan, termasuk keburukan yang ditimpakan kepada diri mereka sendiri.

Menyangkal perbuatan buruk, sebenarnya berasal dari diri kita sendiri. ketidakmampuan menolak perbuatan buruk dengan membalas dengan perbuatan yang baik, merupakan ketidak mampuan kita untuk melakukan kebaikan itu sendiri.

Jika kita tidak bisa melakukan kebaikan, maka kita akan mudah terbawa kepada perbuatan yang buruk. Jika kita selalu dihantui untuk melakukan keburukan, salah satu langkah yaitu kita harus berani menyangkal keburukan itu sendiri dari diri kita. Salah satu nasehat yang orang Madura katakan, “kalau disakiti merasa sakit, maka janganlah menyakiti orang lain.” kalimat ini terdengar arif dan penuh makna, sekarang tinggal anda kerjakan apa yang disampaikan oleh adagium bijak dan penuh nilai kemanusiaan ini.

Fendi Chovi

Author: 

Fendi Chovi, pewarta warga | hobi ngeblog | memiliki buku | aktif di komunitas blogger Plat-M, Madura. Menulis resensi buku, esai, catatan perjalanan dan puisi. Bisa dihubungi di akun twitter @fendichovi

Related Posts

Leave a Reply