Budaya, Madura

Mengulas FTV “Carok” Bercanda dengan Nyawa

Proses pembuatan FTV Carok

Pada tanggal 24 juli 2011 kemarin salah satu stasiun TV swasta memutar FTV (film televisi) saya sedikit kecewa karena saya tidak bisa nonton dikarenakan ada acara yang tidak bisa ditinggalkan, namun kekecewaan itu pudar setelah saya kirim pesan singkat ke teman dan minta tolong untuk merekam film itu untuk saya tonton nantinya, setelah saya tonton hati ini deg-degan karena mungkin baru sekarang budaya Madura diangkat menjadi sebuah karya film, tak mau terlewatkan sedikitpun adegan dari sang artis saya begitu fokus menonton film tersebut, berikut saya akan memberikan ulasan tentang FTV carok berdasarkan analisis saya yang selama ini berpijak di bumi pulau garam ini.

Secara keseluruhan terus terang saya bangga karena ada produser yang mau mengangkat budaya Madura menjadi sebuah FTV, namun terbesit beberapa kekecewaan terkait content film yang tidak sesuai (maklum saya adalah orang Madura tulen dan menghargai budaya saya sendiri) anggap saja misalnya dalam pengucapan atau logat yang dipakai oleh pemeran-pemeran FTV tersebut masih belum layak disebut bahasa Madura karena pengucapannya banyak yang tidak sesuai dengan vokal Madura, sepanjang film itu terjadi hanya di beberapa bagian saja yang saya dengar pengucapannya benar, yaitu pada saat setelah Sarkawi membunuh Mukarrom, Sarkawi kemudian meminta seseorang untuk menggantikannya dipenjara, logat orang yang menggantikan Sarkawi itulah yang benar-benar logat Madura, dan saya rasa pemerannya juga orang Madura (entah itu Madura swasta atau Madura asli), selain pada pengucapan  terdapat ketidaksesuaian dalam alur cerita dengan budaya asli yang ada di Madura, pasalnya seseorang untuk melakukan carok (pada zaman dulu) tidaklah semudah itu melainkan harus ada beberapa proses, karena carok itu merupakan jalan terakhir bagi orang Madura bila ada suatu masalah yang menyangkut harga diri, di film ini ditonjolkan seakan-akan kalau ada masalah maka orang Madura akan langsung melakukan carok padahal di Madura juga ada tradisi lain selain carok untuk menyelesaikan masalah yaitu “bek rembek” atau musyawarah, memang ide cerita yang diangkat oleh produser sudah bagus terkait dengan penyebab terjadinya carok antara Sarkawi dan Mukarrom yaitu masalah istri, karena memang di Madura masalah perselingkuhan itu sangat berkaitan dengan harga diri seseorang, selain masalah istri ada beberapa lagi yang sering menjadi penyebab terjadinya carok misalnya seperti perebutan kedudukan di keraton, perselingkuhan, rebutan tanah, bisa juga dendam turun-temurun selama bertahun-tahun.

“Bercanda dengan nyawa” juga tidak sesuai didefinisikan sebagai sub arti dari carok, karena carok bukanlah candaan atau guyonan atau mainan, carok merupakan keseriusan seseorang mempertahankan harga dirinya dengan mempertaruhkan nyawanya.

Sebenarnya masih banyak lagi ke tidak sesuaian dalam FTV tersebut, tapi saya tetap bangga karena sudah ada orang yang berani mengangkat budaya Madura menjadi sebuah karya FTV, namun perlu disadari juga bagi siapapun yang mau mengangkat budaya Madura menjadi sebuah karya, entah itu karya tulis, atau karya yang lain, terlebih karya yang berbentuk audio visual harus melakukan penelitian yang benar-benar valid terlebih dahulu, karena film yang mengangkat sebuah budaya suatu daerah atau golongan harus sesuai dengan budaya yang berkembang di tempat atau golongan tersebut, cerita boleh fiktif namun budaya yang di angkat tidak boleh dipotong atau dihilangkan bagian-bagiannya, apalagi budaya seperti carok yang sangat riskan sekali bila disaksikan oleh orang luar yang belum pernah tau budaya itu sebelumnya, karena nantinya akan menimbulkan anggapan bahwa orang Madura itu menakutkan, egois, sombong, dll hanya karena sedikit cuplikan dari budaya Madura yang telah berlangsung sejak beberapa tahun lalu.

Tetapi sudah banyak juga bagian dari film ini yang sesuai dengan kebudayaan dan gambaran Madura, misalnya seperti dandanan dari pemeran ibunya Dhani itu sangat pas dengan penampilan orang Madura yang kaya, menggunakan perhiasan emas dan cara berpakaiannyapun sama, seperti orang Madura identik dengan pekerjaan besi tua meskipun ada juga orang Madura yang sukses menjadi birokrat, pejabat dan sebagainya, satu yang saya salutkan dari sang produser yaitu kemauannya untuk mengangkat budaya lokal.

Selain carok tradisi lain yang berkembang di Madura tentunya yang positif, misalnya bahwa orang Madura itu sangat menghargai tali silaturrahmi, rendah hati namun berpegang pada nilai-nilai yang sudah terbentuk sejak lama di pulau ini untuk tidak direndahkan harga dirinya oleh orang lain.

berikut foto-foto ketika tim FTV mengambil gambar di Pasar Baru Ki Lemah Duwur Bangkalan (Jl. Halim Perdana Kusuma) download lengkap disini: