Menuruni bukit yang bersemayam Raja-Raja Sumenep. Bis membawa kami menuju ujung timur pulau Madura. Sebuah pelabuhan sederhana menyambut kedatangan kami. Dermaga ini menghubungkan pulau Madura dengan beberapa kepulauan di timur Madura. Setidaknya ada puluhan pulau-pulau cantik di timur Madura. Masih ada pulau yang belum berpenghuni. Di kawasan Telango ada sebuah buju’ yang merupakan tempat dikuburkan Sayyid Yusuf. Untuk mencapai kawasan ini rombongan harus menaiki kapal ferry kecil dengan ongkos Rp4000,-/orang PP. Tapi karena ketika kami datang, kapal baru saja berangkat. Perahu menjadi alternatif pilihan rombongan. Meski ongkosnya lebih mahal menjadi Rp5000,-/orang PP tapi menunggangi perahu menyeberangi selat mini ini akan memberikan sesuatu yang luar biasa. Terlihat para penumpang kapal melihat kami, mungkin mereka mengira kami adalah rombongan dari Arab Saudi, karena kami berseragam putih dengan pakai sarung lengkap dengan kopyah putihnya.

Kami sangat beruntung menaiki perahu ini, karena kami lebih leluasa mengamatai keindahan tempat ini. sebenarnya tidak ada sesuatu yang berbeda. Tapi karena tempat ini jarang dikunjungi, jadinya seperti begitu indah. Ditambah siraman matahari sunset mengguyur perahu dan menjadi pemandangan yang begitu indah. Kamera yang kami bawa begitu lincah mengabadikan momen setiap momen. 5 menit perjalanan perahu sudah menepi ke kawasan Telango, hanya berjalan sepanjang 500 m kami sudah sampai di Pesarean Sayyid Yusuf. Berikut sejarah Sayyid Yusuf yang kami dapatkan dari Riwayat Singkatnya. Dengan hanya membayar Rp2000,- kami sudah bisa membaca sejarah Sayyid Yusuf dari dua kertas fotocopy. Berikut kisahnya:

Pada tahun 1212 H (Th. 1791 M) raja Sumenep Sri Sultan Abdurrahman Pangkutaningrat, beserta rombongan/prajuritnya berangkat dari Keraton Sumenep. Maksudnya akan menyebarluaskan Agama Islam ke Pulau Bali. Setibanya di Pelabuhan Kalianget, karena hari telah sore, maka beliau terpaksa bermalam, di sekitar jam 24.00 Sri Sultan Abdurrahman terkejut karena tiba-tiba melihat sinar/cahaya yang sangat terang, seakan-akan jatuh dari langit ke Bumi di sebelah timur Pelabuhan atau tepatnya di Pulau Poteran desa Telango Kecamatan Telango Kabupaten Sumenep.

Setelah sholat Subuh, Sri Sultan dengan pengikutnya naik perahu menuju pulau tersebut untuk mencari tanda jatuhnya sinar tersebut. Setibanya di pulau Poteran, Sri Sultan masuk hutan lalu mendapatkan tanda yang menyakinkan seakan-akan kuburan baru. Lalu beliau memberi salam dan salam beliau dijawab dengan suara jelas. Namun tidak ada yang menampakkan diri. Selanjutnya Sri Sultan Abdurrahman ingin mengetahui suara tersebut. Maka beliau munajat atau memohon kehadirat Allah SWT, tiba-tiba jatuhlah selembar kertas diharibaannya dan setelah diperhatikan daun tersebut tertulis dengan tulisan Arab Hadza Maulana Sayyid Yusuf Bin Ali Bin Abdullah Alhasani’.

Selanjutnya Sri Sultan Abdurrahman memasang batu nisan dengan diberi nama sebagai mana yang terdapat atau tertulis pada daun tersebut. Setelah melanjutkan perjalanannya. Sebelum berangkat beliau menancapkan tongkat beliau di dekat kuburan atau pesarean Sayyid Yusuf dan tongkat tersebut hidup sampai sekarang menjadi pohon yang besar dan rindang.

Setelah beberapa lama kuburan atau pesarean diberi congkop atau pendoko kecil tetapi hanya kuburan Sayyid Yusuf pindah dari sebelah timur dengan arti tidak menghendaki diberi congkop. Dan sekitar kurang lebih satu tahun, kemudian Sri Sultan Abdurrahman mendatangi lagi kuburan atau pesarean Sayyid Yusuf untuk membangun pendopo di sekitar kuburan tersebut juga termasuk masjid Jami’ Kecamatan Telango. Demikian sekadar riwayat singkat Sayyid Yusuf dan dikutip dari sejarah wali-wali di Kabupaten Sumenep, Madura. (Sumber: Riwayat Singkat Sayyid Yusuf)

Di kawasan ini juga terdapat banyak penjual oleh-oleh khas Sumenep yang cukup menggiurkan bagi peziarah yang datang. Beberapa jasa ojek juga menggais rejeki dari jasa ojek menuju pelabuhan untuk para peziarah. Karena kami pakai perahu, membuat jarak kami lebih dekat. Hanya dengan berjalan kaki selama 10 menit kami sudah sampai di ujung Pulau dan siap kembali ke Kalianget. Suasana sudah gelap saat kami menaiki perahu. Suasana malam hari di tempat ini begitu indah. Angin semilir dari laut di tambah beberapa gemerlap lampu di Kalianget memberikan sebuah kesegeran tersendiri bagi siapa saja yang mengunjungi tempat ini. Beranjak dari tempat ini, rombongan melanjutkan perjalanan kembali ke barat. Dengan tujuan ke Batu Ampar di Proppo, Pamekasan.