Bis rombongan terus bergerak menuju ujung timur pulau Madura meninggalkan pesona buju’ Panaongan di daerah Pasongsongan. Jadwal selanjutnya adalah menuju makam para raja-raja Sumenep, Asta Tinggi. Dari daerah ini terlihat kabupaten Sumenep dari atas bukit. Memang Asta Tinggi terletak di atas dataran tinggi di utara kabupaten Sumenep. Di kawasan ini kita diajak masuk ke tempo dulu dengan beberapa arsitektur kerajaan Sumenep, gabungan arsitektur Belanda, Inggris dan Madura begitu kental terlihat dari beberapa pintu gerbang yang kokoh berdiri tegap di dalam kompleks Asta Tinggi.

Waktu rombongan sampai di sana, kawasan ini sudah sangat ramai dengan beberapa pengunjung dari berbagai daerah di Indonesia. Sebelum berziarah ke makam para penyebar Islam di kabupaten Sumenep yang juga raja-raja kerajaan Sumenep, kami dipanggil juru kunci Asta Tinggi untuk berkumpul di tempatnya, kami diberi sedikit pengantar tentang beberapa tokoh yang dimakamkan di kawasan ini. rombongan terlihat sangat serius memerhatikan juru kunci yang bercerita dengan logat bahasa Madura Sumenep.

Saja tertegun ketika juru kunci yang menceritakan tentang Bindhara Saod, tokoh sekaligus ulama besar di Sumenep kala itu. Banyak karomah yang dimiliki oleh beliah, salah satunya Bindhara Saod sudah bisa berbicara saat masih ada di dalam kandungan. Percayalah akan kebenaran ini!

Asta tinggi sendiri menurut arti Etimologi adalah makam yang tinggi. Itu berdasar dari letak makam yang berada di puncak bukit dan penamaan Asta Tinggi sebenarnya hanya untuk mempermudah penyebutan saja. Di Asta Tinggi sendiri bukan hanya terdapat makam dari raja namun juga makam dari keluarga -keluarga raja, sentana, dan punggawa sejak abad XVI. Dari banyak sumber sejarah mengatakan bahwa Asta Tinggi memiliki nilai kekeramatan yang tinggi. Meskipun dulu mempunyai mitos keangkeran dan daya mistis yang tinggi sekarang hal tersebut seperti sudah lenyap karena sudah banyak orang yang berziarah. Orang banyak berziarah kesini karena raja-raja sumenep juga dikenal karena kewaliannya karena perduli terhadap perkembangan Islam di daerah Sumenep dan sekitarnya.

Makam pertama yang ada di Asta Tinggi adalah makam dari R.Mas Pangeran Anggadipa yang merupakan seorang adipati. Makam perempuan di samping beliau adalah makam dari istri beliau yang bernama R.Ayu Mas Ireng, R.Ayu Mas Ireng sendiri adalah putri dari Panembahan Lemah Duwur. Dulu pada awalnya Asta Tinggi tidak memiliki pagar hanya rimba belantara dan batuan terjal. Untuk menghormati Pangeran Anggadipa dan istrinya Pangeran Rama yang ketika itu menjabat sebagai adipati sumenep membangun pagar hanya dengan batu-batu yang disusun rapi. Asta Tinggi sendiri memiliki dua bagian dimana bagian barat memiliki corak jawa. Di bagian timur sendiri lebih didominasi oleh corak Cina, Eropa, Arab dan Jawa. Pembangunannya sendiri berlanjut dari masa pemerintahan Panembahan Notokusumo I Asirudin dan Sultan Abdur Rahman yang tidak lain dan tidak bukan adalah putranya, dan masih berlanjut lagi di masa pemerintahan Panembahan Moh.Saleh. -Asal Usul Asta Tinggi-

Hari sudah beranjak sore ketika kami berada di kawasan ini, kami melaksanakan Sholat Ashar di masjid kecil yang berada di depan Asta Tinggi setelah itu melanjutkan perjalanan ke ujung timur pulau Madura, Kalianget!

Wahyu Alam

moslem - blogger - traveler - founder of @plat_m - software quality assurance - book reader - social media - #ihateLate - t: @wahyualam - b: wahyualam.com

More Posts - Website

Follow Me:
TwitterFacebookLinkedInGoogle Plus