Usai berziarah di Buju Sembilangan dan Buju Sara, bis membawa rombongan ke arah timur. Sekitar 5 menit perjalanan dari Buju Sara. Sebuah masjid besar nan megah menentramkan setiap insan yang melihatnya. Kubah yang berwarna emas, mengingatkan kita pada kubah Masjidil Aqsa di Palestina. Sangat terlihat bangunan ini belum selesai dalam tahap akhir pembangunan. Halaman masjid masih berupa tanah. Tempat parkir sangat luas berada pada halaman dan di seberang jalan sudah ada parkir luas untuk bis-bis besar rombongan dari berbagai kota di Indonesia. Ya, siapa yang tidak kenal dengan Masjid Syaichona Cholil, Bangkalan. Terletak di Desa Mertajasah ke arah barat alun-alun Bangkalan.

Dahulunya di sekitar masjid ini masih menyatu dengan pondok pesantren, namun karena semakin banyak peziarah yang berkunjung setiap harinya, kawasan wisata religi di Syaichona Cholil ini direnovasi sehingga tampak seperti saat ini. Pohon-pohon kurma yang ditanam dipinggir-pinggir jalan semakin melengkapi keindahan kawasan ini. Serasa ada di kawasan timur tengah. Tepat di bawah masjid ini bersemayam wali Allah yang termahsyur dari Madura. Syaichona Cholil. Sang pencetak waliyullah dari Bangkalan. Konon menjadi orang Indonesia pertama yang menjadi imam di masjid Makkah Al Mukarromah. Berikut peninggalan beliau yang bermanfaat bagi umat sampai sekarang:

  1. Pesantren Jangkibuan. Pesantren ini terus aktif sampai kini dan diasuh oleh keurunan Nyai Khotimah bin Kholil dengan Kiai Thoha. Pesantren ini diberi nama “Pesantren Al-Muntaha Al-Kholili”.
  2. Pesantren Kademangan. Sepeninggal Syekh Kholil, pesantren ini diasuh oleh keturunan beliau sendiri. Saya mendapatkan tiga nama urutan pengasuh Pesantren Kedemangan, yaitu Kiai Abdul Fattah bin Nyai Aminah binti Nyai Muthmainnah binti Imron bin Kholil, kemudian Kiai Fakhrur Rozi bin Nyai Romlah binti Imron bin Kholil, kemudian Kiai Abdullah Sachal bin Nyai Romlah binti Imron bin Kholil.
  3. Kitab As-Silah fi Bayanin-nikah?. Sebuah kitab tentang pernikahan, meliputi segi hukum dan adab. Dicetak oleh Maktabah Nabhan bin Salim Surabaya.
  4. Rangkaian Shalawat. Dihimpun oleh KH. Muhammad Kholid dalam kitab I’anatur Roqibin dan dicetak oleh Pesantren Roudlotul Ulum, Sumber Wringin, Jember. Jawa Timur.
  5. Dzikir dan wirid. Dihimpun oleh KH. Mushthofa Bisri, Rembang, Jawa Tengah, dalam sebuah kitab berjudul “Al-Haqibah”.

Ornamen di luar dan di dalam masjid membuat semua peziarah yang hadir terpesona dan tidak berhenti melihat ke setiap sudut masjid. Seolah tidak menyangka ada masjid besar nan megah di pinggiran kota Bangkalan. Semua anggota rombongan berdo’a sangat khusyu’ di tempat ini. Tempat dimakamkannya seorang kiai yang mencetak tokoh-tokoh besar di negeri ini. Tokoh yang melahirkan organisasi masyarakat Nahdlatul Ulama. Tidak cukup satu postingan ini menceritakan begitu banyak karomah yang dimiliki beliau.?Subhanallah!

Meninggalkan kemegahan masjid Syaichona Cholil, rombongan meluncur ke Bukit Geger.

Bersambung