Tradisi Keislaman Pasca Kematian Di Madura

 Bangkalan, Madura, Pamekasan, Sampang, Sosial, Sumenep
Tahlil, salah satu tradisi Madura sebagai kamu Nahdiyin

Tahlil, salah satu tradisi Madura sebagai kamu Nahdiyin

Jika anda adalah orang Madura atau saat ini sedang tinggal di Madura, maka anda akan menemukan beberapa hal menarik terkait hal-hal pasca kematian yang hingga saat ini terjadi di kalangan masyarakat yang ada di Madura.

Hal itu juga terjadi kepada saya sendiri, sejak kecil hingga saat ini, saya seringkali menghadiri berbagai kegiatan yang bersangkut paut dengan masalah kematian, semisal mengantar orang yang sudah meninggal sampai ke tempat pemakaman, membaca doa-doa ataupun dzikir dan tahlil bersama buat orang yang sudah meninggal. Berhubung di Madura kekuatan organisasi sosial kemasyarakatan adalah kaum Nahdiyin (sebutan buat NU) maka tradisi membaca tahlil buat orang yang sudah mati adalah tradisi yang sampai saat ini masih terjaga dengan baik.

Selain kegiatan di atas, satu hal yang sampai saat ini jadi ingatan buat saya bahwa di Madura ada beberapa tradisi yang bercorak keislaman sampai saat ini masih menghiasi tradisi kematian untuk orang-orang Madura. Untuk itu, di dalam tulisan ini, saya ingin menyampaikan beberapa hal terkait masalah yang bersangkut paut dengan tradisi keislaman pasca kematian.

Di Madura, upacara kematian sebagaimana disebutkan kembali dalam buku Madura Raya : Peluang, Impian dan Kenyataan yang ditulis oleh Prof. Dr. Ali Mufrodi bahwa setelah kematian masih ada tradisi yaitu lo’ tello’ (hari ketiga), to’ petto’ (hari ke tujuh), pa’ polo (hari ke empat puluh), nyatos (hari keseratus), nyataon, (satu tahun setelah kematiaan) dan nyaebu (hari keseribu hari setelah kematian). Di dalam setiap perayaan itu, pihak keluarga bisanya menyelenggarakan pembacaan doa-doa, dzikir, maupun tahlil dan membaca yaasin.

Perbedaan dari beberapa tradisi yang penulis sebutkan di atas hanya terletak pada untuk lo’ tello’ ataupun to’ pettok pihak keluarga tidak mengundang orang lain tetapi para tetangga dan tamu sendiri yang datang untuk melayat atau untuk berdoa ke tempat yang sedang ditimpa kematian salah satu anggota keluarga nya itu dan sebaliknya untuk pa’ polo dan seterusnya biasanya pihak keluarga yang mengundang orang lain untuk datang dan melayat untuk mendoakan keluarga yang sudah meninggal tersebut.

Hal lain yang lebih juga terdapat pada perayaan meninggalnya seorang kiai besar atau orang shalih, maka peringatan tahunan (haul) kerapkali kita jumpai hingga saat ini. dalam haul ini biasanya tidak hanya terjadi di desa-desa tetapi di kota-kota juga terjadi, sebab bagi kebanyakan orang bahwa mendoakan orang shalih atau kiai bagi kalangan ahlussunnah wal jamaah akan memberikan kebarokahan hidup bagi mereka selama tinggal di dunia ini.

Tulisan yang hanya berupa catatan kecil ini, cukup saja menjadi refleksi bahwa mendoakan orang mati entah di hati pertama sampai di hari ke seribu adalah sebuah kemulian hati untuk selalu berbagi kebaikan untuk orang lain termasuk ketika orang itu sudah meninggal dunia.

Fendi, suka menulis esai dan cerita pendek. Akun Twitter @fendichovi

Fendi Chovi

Author: 

Fendi Chovi, senang menulis dan jalan-jalan. Pernah bekerja di korankabar.com Berkesempatan menghadiri ASEAN Blogger Festival dan sederet kegiatan blogger baik tingkat nasional dan daerah. Saat ini aktif di komunitas blogger Plat-M, Madura dan Komunitas Lintas Agama Young Interfaith Peacemakers Community Indonesia (YIPCI). Cita-citanya ingin punya karya yang diterbitkan Kompas Gramedia. Boleh berbagi di twitter @fendichovi

Boleh berkunjung ke blog : mapping-map.blogspot.com

Related Posts

Leave a Reply

Buktikan kalau kamu adalah manusia! * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.