TIK Masuk Pesantren (di Sampang)

 Berita, Event, Sampang


Pondok Pesantren Al-Haramain, Sampang menjadi tempat diadakannya Workshop TIK Masuk Pesantren pada Sabtu – Senin, 6-8 Oktober 2012. Acara yang juga masuk dalam rangkaian roadshow 15 Pesantren se-Jawa Timur-Jawa Tengah. Diselenggarakan oleh Majelis Muwasholah Baina Ulama Wal Muslimin bekerjasama dengan UPN juga disponsori oleh @speedytaqwa. Plat-M juga sangat mendukung acara ini.

Sepekan sebelumnya acara ini sudah di selenggarakan di PP. Langitan, Tuban. Setelah dari Tuban melangkah jauh ke Madura, tepatnya di Sampang. Acara ini mengundang dua perwakilan dari seluruh pondok pesantren yang ada di Madura. Beberapa hadir dari Bangkalan, Sampang, Pamekasan dan Sumenep. Sudah saatnya memang pesantren itu menggunakan teknologi informasi dan komunikasi seperti internet. Oleh karena itu, perlu edukasi untuk membentuk pesantren yang berbasis TIK.

Secara keseluruhan acara di bagi menjadi dua kelas, yaitu kelas Social Media dan kelas Video dan Radio Streaming. Juga diadakan sesi tausyiah tentang bagaimana memanfaatkan internet untuk berdakwah.

Hari pertama setelah pembukaan, peserta diberi arahan tentang pentingnya kegunaan internet untuk digunakan sebagai media berdakwah. Juga ada beberapa materi dari sponsor. Di malam hari, KH. Imam Mawardi yang juga sebagai penulis memberikan tausyiah yang membuka wawasan para peserta tentang pentingnya pemanfaatan teknologi untuk media berdakwah. Beliau juga memberikan contoh tentang hal kecilyang beliau lakukan untuk kepentingan umat (baca: berdakwah).

Kyai Imam menggunakan fasilitas SMS gratis yang biasa diberikan oleh operator untuk mengirimkan ayat-ayat Alquran, petikan hadist, hingga beberapa kata mutiara kepada sekitar 10.000 umat. Jumlah itu terus bertambah. Dan hanya dengan satu klik semua pesan akan terkirim ke 10.000 umat. Bayangkan efesiensinya daripada cara dakwah yang konvensional seperti yang biasa dilakukan di masyarakat Indonesia, Madura khususnya. Cara konvensional yang dimaksud adalah cara dimana ulama berada di mimbar/panggung untuk memberikan tausyiah kepada sekitar 1000 orang. Cara itu bukan cara yang salah, namun jika dibandingkan output, biaya, dan keefektivitasannya, dakwah menggunakan teknologi (misalnya SMS) jauh lebih hemat dan efektif dengan biaya yang murah.

Hari Kedua, semua peserta belajar teknis tentang social media dan radio/video streaming dalam dua kelas yang berbeda. Plat-M diberi amanah untuk kelas social media dan blogging. Berikut kutipan dari blog @wahyualam:

Tanpa terasa 45 menit sudah saya berikan materi. Saatnya praktek. Membuat email, mengirim email, memanfaatkan Google Drive menjadi agenda menarik sebelum Dhuzur. Semua peserta khusyu’ dengan laptop masing-masing. Gerakan seperti menaruk telapak tangan di dagu, memperbaiki peci, tidak berkedip di depan layar, menoleh ke teman sebelahnya, melihat ke tembok yang terpancar sinar projector dari laptop saya, sampai mengangkat tangan bertanya adalah suasana saat praktek. Alhamdulillah mereka sudah punya email dan bisa menggunakan Google Drive sesaat sebelum kumandang Adzan Dhuzur.


Usai ISHOMA, saya memasuki kelas dengan begitu antusias. Sekarang saatnya materi (menulis) blog. Sebelum diberikan materi creative writing sampai teknis pembuatan blog, saya “paksa” mereka menulis. Mencurahkan isi pikirannya ke dalam laptop masing-masing. Selama 5 menit. Hasilnya, ada yang Cuma satu baris 8 kata, ada yang menghasilkan dua baris, tiga baris, sampai ada yang satu paragraf. Ketika ditanya kesulitannya: “ngga mood”, “susah diungkapkan dengan kalimat”, “susah menuangkan apa yang ada di dalam pikiran”, sampai “tidak cepat mengetiknya”. Setelah saya paksa mereka menulis, harapannya mereka bisa berpikir bahwa menulis itu memang harus belajar. Saya merangkum materi dari @ndorongkakuang, @bushtommy, sampai dosen saya Pak Husni tentang creative writing. Semoga materi dari tiga orang hebat ini bisa memberikan inspirasi mereka dalam menulis.

Malam harinya diisi dengan ber-sholawatan bersama, kemudian ada sedikit sharing tentang bagaimana dakwah di Damaskus seperti yang pernah disaksikan dan dilaksanakan oleh salah seorang Kyai lulusan Damaskus yang hadir di PP. Al-Haramain.

Hari ketiga, hari terakhir. Pagi hari peserta nonton baren film linimassa1. Kemudian ada sharing tentang sosial media dan beberapa sponsor. Sampai saat sore hari, sekitar jam 14.45 wib. Peserta utusan dari berbagai pondok di Madura melakukan video call dengan @donnybu.

Wajah santri seperti takjub melihat kita sedang livestreaming dengan teman yang ada di Jakarta. Ustadz @donnybu lengkap dengan pecinya memberikan tausyiah singkat tentang social media movement. Pemanfaatan social media untuk kebaikan. Meski cuma bisa memandangi layar dan mendengarkan suaranya lewat pengeras suara, tapi santri terlihat begitu serius dan menikmati sesi ini. Tiga santri memberikan tiga pertanyaan untuk ustadz @donnybu. Saya merasa haru, melihat santri tidak hanya memandangi layar, melihat wajah om Donny dari sinar projector, tetapi juga bisa tanya-jawab. Dari Madura ke Jakarta. Hal ini tentu belum bisa dilsayakan sepuluh atau lima tahun yang lalu.

Usai ber-skype-ria, acara ditutup oleh perwakilan telkom, UPN, dan PP. Al-Haramain. Semoga acara selama tiga hari ini bisa memberikan wawasan dan menambah pengetahuan tentang penggunaan teknologi Informasi sebagai media dakwah.

Wahyu Alam

Author: 

moslem - blogger - traveler - founder of @plat_m - UTM lecturer - book reader - social media - #ihateLate - t: @wahyualam - b: wahyualam.com

Related Posts

One Response

  1. Deni17/12/2015 at 11:03Reply

    sangat mendukung adanya kegiatan IT masuk pesantren ini. teknologi memang bisa bermanfaat baik apabila kita tahu cara menggunakannya serta batasan-batasannya 🙂

Leave a Reply

Buktikan kalau kamu adalah manusia! * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.