OTEMA #2: Madura Menurut M. Faizi

 Berita, Madura, OTEMA, Pengumuman, Sosial, Sumenep

M. Faizi 2

Berbicara tentang Madura, seharusnya tidak boleh dilepaskan mengenai geografis tanah Madura dan nilai-nilai keindahan kepulauan Madura itu sendiri, termasuk dari sisi seorang seniman. Oleh karena itu, tanggal 23 yang lalu, M. Faizi, Penyair asal Guluk-Guluk Sumenep Madura ini diundang untuk berbicara tentang Madura. Penyair yang pernah menghadiri Ubud Writers dan Readers Festival 2008 serta Jakarta Berlin Art Festival, Berlin, Jerman, 24 juni-3 juli 2011. Di luar itu, dengan sederet beberapa tulisan buku seperti sehimpun prosa, Sareyang (2005) dan Merentang Sajak Madura Jerman (2012) adalah sesuatu yang tepat untuk membicarakan Madura dari sisi pandangan seorang penyair sekaligus seniman Madura.

Bagi M. Faizi, kepulauan Madura bukan sekadar tempat untuk berwisata ke pantai, seperti kebanyakan dilakukan oleh para masyarakat, termasuk ke pantai cemara udang Lombang, Batang-batang dan Pantai Slopeng yang keduanya berada di Kabupaten Sumenep. Pantai Talang Siring di perbatasan Pamekasan Sumenp. Lebih dari itu, Madura seharusnya menjadi tempat Wisata Religi. Kenapa? Karena kepulauan Madura sangat dikenal sebagi tempat wisata religi. Kita bisa melihat Asta Joko Tole, Asta Tenggi, Asta Katandur, hingga Asta Yusuf di kepulauan Talango, Sumenep Madura. Ke Pamekasan, kita bisa melihat Asta Batu Ampar. Ke Sampang kita bisa juga melihat tempat Asta Rato Ebu, ke Bangkalan kita bisa melihat Asta Syaichona Kholil Bangkalan.

Pada OTEMA ini, yang merupakan kependekan dari Obrolan Tentang Madura yang dilakukan komunitas blogger Plat-M, biasa menghadirkan pembicara dari kalangan budayawan Madura. Tanggal 23 Desember 2012 ini, M. Faizi di kasih kesempatan untuk mengisi momen ini yang kebetulan juga bertepatan dengan HUT Plat-M yang ketiga. Menurut M. Faizi, saat ini orang Madura terlalu direndahkan karena sikap orang Madura itu sendiri. Seperti ungkapan kalau orang Madura mau ke pulau Jawa, maka mereka mengggunakan kata “ongghe” yang berarti naik, sedangkan kalau orang Jawa mau ke Madura, mereka bilang “toron” ke Madura. Kata toron yang dimaknai dengan kata ?turun?, secara geografis sangat tidak pas. Kenapa? Karena letak tanah kepulauan Madura dan Jawa tidak lebih tinggi. Sehingga kata ongke dan toron, adalah bentuk inferior statement atau penyataan yang melemahkan orang Madura. Hal ini, ditandai seolah orang jawa kalau ke Madura, mereka harus turun ke pulau, sedangkan kalau orang Madura mau ke Jawa, mereka seolah naik ke pulau. Sebuah pernyataan yang harus dirubah. Untuk itu, diperlukan wacana tanding untuk masalah ini. Wacana tanding ini, adalah upaya bagaimana menjual Madura dengan cara memperkenalkan keindahan dan keadaan Madura. Jika ada orang luar menganggap orang Madura keras, kasar, itu harus dicek ulang. Karena di lain tempat masih ada orang Madura yang berperilaku santun (andep asor) sehingga statement orang Madura yang kasar bisa menghilangkan perilaku orang Madura yang baik di berbagai tempat. Madura itu luas, jadi jangan tampilkan Madura yang hanya diwakili orang daerah Madura tertentu.

Banyak sekali peneliti luar negeri yang tertarik meneliti tentang Madura, sebut saja Hob de Jonge dari Belanda serta Helena Bouvier dengan judul bukunya lebur. Tak ketinggalan juga ada Latif Wiyata serta Mutmainnah dari dari Universitas Trunojoyo sebagai peneliti asli kelahiran Madura. Dengan hadirnya para peneliti ini, seharusnya mampu menggambarkan Madura sebagai upaya untuk menghasilkan penelitian yang bukan memperkeruh streotif buruk tentang Madura sehingga merugikan orang Madura itu sendiri. Saatnya, orang-orang Madura termasuk pelajar di Madura untuk melakukan budaya tanding lewat tulisan melalui tulisan di blog yang bisa disebarkan ke publik.

Kita juga harus mengetahui bahwa Madura adalah tempat bagi produksi daun tembakau. Dan daun tembakau produksi Madura ini adalah daun yang sangat berkualitas. Ketika M. Faizi berkunjung ke Jerman, di negeri itu sudah dikenal kata Madura Leaves yang berarti daun Madura. Penyebutan daun Madura itu adalah daun tembakau yang digunakan sebagai bahan untuk rokok. Jadi apa lagi yang diragukan dari Madura.

Seharusnya, masyarakat Madura tidak melebih-lebihkan ketika berbicara tentang Madura. Cerikan Madura apa adanya, sehingga ketika ada orang luar Madura berkunjung ke Madura. Mereka bisa menemukan Madura sesuai apa yang mereka dengar berupa tempat pemakaman para leluhur orang Madura, yaitu asta yang selalu diyakini memiliki kekeramatan. Orang yang berdoa di asta bisa saja dimudahkan hidupnya dan dimudahkan juga rejekinya. Ceritakan Madura apa adanya sehingga orang luar Madura. Mengenal Madura sesuai apa yang di dengar.

Demikian, berapa sebagian kecil hal yang disampaikan M. Faizi. Untuk mengenal pembicara ini, lihatlah disitus blognya di kormedal.blogspot.com

Fendi Chovi

Author: 

Fendi Chovi, senang menulis dan jalan-jalan. Pernah bekerja di korankabar.com Berkesempatan menghadiri ASEAN Blogger Festival dan sederet kegiatan blogger baik tingkat nasional dan daerah. Saat ini aktif di komunitas blogger Plat-M, Madura dan Komunitas Lintas Agama Young Interfaith Peacemakers Community Indonesia (YIPCI). Cita-citanya ingin punya karya yang diterbitkan Kompas Gramedia. Boleh berbagi di twitter @fendichovi

Boleh berkunjung ke blog : mapping-map.blogspot.com

Related Posts

Leave a Reply

Buktikan kalau kamu adalah manusia! * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.