karapan sapi 2013

Sapi Madura

Madura tidak hanya dikenal sebagai Pulau Garam, akan tetapi juga dijuluki dengan Pulau Sapi. Hal ini karena ternak sapi, hampir semua masyarakat petani di perdesaan bisa dipastikan beternak sapi.

Kegemaran masyarakat Madura beternak sapi ini tidak hanya mendatangkan keuntungan secara ekonomi semata, namun kegemaran masyarakat di Pulau Garam ini juga mampu menciptakan tradisi dan budaya yang mengakar.

Budaya karapan sapi, sapi sonok dan sapi taccek (sapi pajangan) merupakan potret kecintaan masyarakat terhadap ternak sapi.

Badan Pusat Statistik Jawa Timur mencatat, populasi sapi di empat kabupaten di Pulau Madura itu setiap tahun terus bertambah. Hasil pendataan yang dilakukan lembaga itu menunjukkan, populasi sapi di Pulau Madura mencapai 806.608 ekor.

Angka ini mengalami peningkatan dibanding 2012 yang hanya mencapai 787.424 ekor dengan jumlah terbanyak di wilayah Kabupaten Sumenep yakni mencapai 360.000 ekor lebih.

Berdasarkan potensi yang ada itulah, maka pemerintah pusat melalui Kementerian Pertanian menganggap bahwa Pulau Madura memiliki potensi besar untuk dijadikan kawasan pengembangan peternakan sapi di Indonesia.

Populasi sapi di Madura bahkan menyamai populasi sapi di Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur yang selama ini dikenal sebagai sentra peternakan sapi di Indonesia.

Bahkan Menteri Pertanian Suswono saat mendampingi kunjungan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ke Pamekasan menjelaskan, di Pulau Madura ada salah satu pulau yang jumlah populasi sapinya melebihi jumlah penduduk. “Namanya Pulau Sepudi masuk Kabupaten Sumenep,” katanya kala itu.

Di pulau itu populasi ternak sapi mencapai 50.000 ekor, sementara warganya hanya sekitar 40.000 jiwa.

Di Pulau Garam Madura ini terdapat empat kabupaten, yakni Kabupaten Sumenep, Pamekasan, Sampang dan Kabupaten Bangkalan. Hampir semua penduduknya gemar beternak sapi.

Dari empat kabupaten yang ada itu, Pamekasan merupakan satu-satunya kabupaten yang memiliki keinginan kuat dalam mengembangkan budidaya ternak sapi, kendatipun jumlah populasi sapi di kabupaten ini lebih sedikit dibandingkan dengan Kabupaten Sumenep.

“Di Pamekasan populasi sapi potong hanya 127.674 ekor (PSPK 2011) dengan jumlah sapi betina produktif sekitar 50.000 ekor,” kata Kepala Dinas Peternakan Pamekasan, Bambang Prayogi kepada Antara, Rabu.

Satu Saka

Kepala Dinas Peternakan Bambang Prayogi menjelaskan, meski populasi ternak sapi di Kabupaten Pamekasan tergolong sedikit ketimbang Sumenep, namun pemkab membuat program terobosan baru untuk meningkatkan populasi ternak.

“Program itu kami beri nama Intan Satu Saka/Inseminasi Buatan Satu Tahun Satu Kelahiran pada ternak sapi),” kata Bambang.

Program ini, katanya, untuk merespons upaya percepatan swasembada daging sapi nasional Tahun 2014 yang telah dicanangkan pemerintah pusat.

Diakuinya, untuk merealisasikan program tersebut bukanlah hal yang mudah. Sebab sebagian peternak belum memiliki kemampuan yang cukup untuk melakukan IB secara langsung.

Untuk melaksanakan program ini, pemkab masih melatih tenaga ahli dan melakukan sosialisasi secara berkesinambungan kepada para pemilik sapi yang tersebar di 13 kecamatan di Kabupaten Pamekasan.

“Tapi, Alhamdulillah dampak dan hasilnya sangat menggembirakan, bahkan pada tahun 2012 Kabupaten Pamekasan terpilih sebagai 8 Kabupaten/kota terbaik se-Indonesia pada ajang IGA (Innovatif Government Award) dari Kementerian Dalam Negeri, untuk kategori Daerah dengan Program Paling Innovatif,” kata Bambang menjelaskan.

Tidak hanya itu saja, pada Juli 2013 salah satu kelompok tani dari Kabupaten Pamekasan (Kelompok Tani Pancong Jaya dari Kecamatan Waru) mewakili Provinsi Jawa Timur untuk mengikuti penilaian Lomba Kelompok Tani Berbasis Ternak Tingkat Nasional, dan berhasil meraih penghargaan Adhikarya Pangan Nusantara Tahun 2013 dari Presiden RI.

Peluang Investasi

Menurut Kepala Dinas Peternakan Pamekasan Bambang Prayogi, berbagai berbagai upaya inovatif, serta prestasi yang diraih Kabupaten Pamekasan dalam program pengembangan ternak sapi itulah, kini pihak bank mulai percaya untuk menanamkan modalnya dalam usaha ternak sapi.

Dinas Peternakan, kata dia, telah memfasilitasi permodalan bagi kelompok tani ternak melalui KKPE (Kredit Ketahanan Pangan dan Energi) oleh Bank Rakyat Indonesia (BRI).

“Nilai pinjaman yang diperoleh oleh salah satu kelompok peternak sapi di Pamekasan dari BRI itu mencapai Rp4.370.000.000,” kata Bambang.

Dengan adanya upaya serius, peluang investasi bisa terbuka lebar, apalagi bila pemerintah pusat mendukung keamanan berinvestasi di Pulau Madura, misalnya dengan asuransi ternak dan dukungan kebijakan industrialisasi Sapi Madura.

Sebagai daerah surplus sapi, Pulau Madura selama ini hanya mengirimkan sapi potong hidup. Oleh karenanya pemkab mengusulkan agar ke depan perlu digarap industrialisasi sapi potong di Pulau Madura sehingga lebih efektif karena di samping nilai ekonomisnya lebih tinggi, lapangan kerja bisa lebih luas.

“Dukungan anggaran tentunya sangat kami harapkan baik dana DAK, tugas pembantuan, dana dekon dan sumber pendanaan lainnya,” kata Bambang.

Apalagi, sampai saat ini potensi wilayah sumber bibit sapi potong (Sapi Madura) di Kabupaten Pamekasan belum terbangun secara optimal. Padahal, kata Bambang, Pamekasan sangat berpeluang untuk menjadi pendukung ketersediaan pangan strategis dalam hal ini daging dan hasil produk peternakan lainnya.

Potensi dan semangat daerah untuk membangun wilayah sumber bibit Sapi Madura menjadi kawasan strategis sumber bibit masih perlu mendapatkan perhatian dari Pemerintah Pusat sebagai bagian dari upaya menuju ketahanan pangan nasional.

Target yang ingin dicapai pemerintah daerah ke depan adalah terbentuknya kawasan sumber bibit Sapi Madura khususnya di wilayah utara Kabupaten Pamekasan.

Sumber: ANTARANews