Perempuan Madura itu Tangguh

 Sosial

Kalau Anda pernah membaca buku “Garam, Kekerasan, dan Aduan Sapi (Esai-Esai tentang Orang Madura dan Kebudayaan Madura)”, tentu tak asing dengan asumsi-asumsi miring yang dilakukan Kolonial kepada perempuan Madura. Buku yang ditulis oleh Huub de Jonge ini memaparkan sentimen-sentimen negatif tersebut untuk menjatuhkan martabat mereka.

Menurut Kolonial, perempuan Madura lebih kasar ketimbang perempuan Jawa Tengah dan Jawa Barat. Struktur tubuhnya selalu digambarkan dengan postur yang gemuk, aneh, dan jelek, sementara perempuan Jawa digambarkan berwajah pucat yang halus, lembut, dan menarik. Surink (1933:210) menyebut perempuan Madura cepat tua, dan pada usia relatif muda sudah ada ciri-ciri kelaki-lakian dan keriput.

Di halaman 64 buku tersebut terdapat sebuah kutipan dari J.S. Brandts Buys yang mengatakan, “Perempuan Madura tidak […] terlalu anggun dan berwibawa. Struktur tulangnya kelewat kasar untuk itu [dan] raut mukanya terlalu bebal. Gadis-gadis ciliknya jauh lebih halus, namun segera menjadi kasar begitu mereka tumbuh dewasa.”

Masih banyak stereotip yang dialamatkan kepada perempuan Madura, misalnya dari cara berpakaian, cara berbicara, dan semacamnya. Sebagai usaha menjatuhkan, tentu saja stereotip ini dumunculkan tanpa mau melihat sisi lebih yang dimiliki perempuan Madura. Mereka tentu tidak akan menulis bagaimana peran perempuan Madura dalam kehidupan sehari-hari, poin yang sebenarnya lebih penting ketimbang pembahasan fisik belaka.

Dalam kehidupan sehari-hari, perempuan Madura dikenal tangguh. Selesai salat Subuh mereka sudah berada di dapur untuk mempersiapkan sarapan pagi anak-anak dan suaminya. Setelah itu, mereka menyapu dan kadang mencuci pakaian. Selesai menyapu, mereka masih harus menyusul suaminya ke ladang untuk mengurus tanaman. Di ladang, biasanya mereka bertahan hingga siang hari. Terkadang mereka harus kembali ke ladang sore hari untuk menyelesaikan pekerjaan yang belum kelar. Hampir maghrib mereka baru pulang. Pekerjaan itu nyaris merupakan rutinitas bagi mereka karena sebagian besar penduduk Madura adalah petani. Selebihnya nelayan, pengusaha, dan pekerja kantoran.

Demikianlah kehidupan perempuan Madura. Tentu sangat sederhana jika hanya dibaca dalam sebuah tulisan. Namun, bila sudah melihat fakta kehidupan sehari-hari, tentu tak sesederhana itu. Maka, wajar jika laki-laki Madura memberikan tempat terhormat bagi istrinya. Mereka berani “berputih tulang” (mati) demi menjaga martabat sang istri.

Author: 

Orang Sumenep, Madura | http://www.fahrur.com | @demokrozi |

Related Posts

Leave a Reply

Buktikan kalau kamu adalah manusia! * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.