OTEMA #1: Asal Usul Madura dan Carok bag.2

 Bangkalan, Budaya, Len-Jelen Bareng, Madura, Ngompol Bareng, OTEMA, Pamekasan, Sampang, Sumenep

Orang Madura selalu menjaga diri dan wibawa keluarga. adagium ethembeng pote tolang kathembeng poteh mata–lebih baik mati atau putih tulang dari pada menanggung malu–. Orang Madura merasa sulit untuk memaafkan apabila dipermalukan atau keluarganya dipermainkan.

Carok bisa dikategorikan menjadi dua, ada carok yang spontans dan carok yang direncanakan. Kalau carok yang spontans, saat ini sulit terjadi karena orang Madura sekarang jarang membawa senjata tajam (sikep). Mereka pergi ke sawah dengan membawa senjata terkadang hanya untuk menjaga diri, pada umumnya orang itu sudah memiliki musuh, Proses terjadinya carok, di mulai dengan adanya perjanjian, pihak yang pertama biasanya memberi tahu pihak yang kedua melalui orang lain untuk bertemu di tempat tertentu.

Di Madura, carok umumnya berkaitan dengan masalah perempuan atau masalah irigasi, yaitu persoalan perairan di sawah. Ketika ada air dari sungai besar dialirkan ke sawah yang lain atau ditutup sehingga sawah yang jauh tidak kebagian air, sehingga terjadi pertengkaran karena tanaman sawahnya terganggu. Di samping itu, Kebanyakan, orang madura lebih percaya kepada pembicaraan orang lain, walaupun hanya kabar angin. Seperti istrimu diselingkuhi, padahal tujuannya hanya untuk merusak, motif-motif ini juga menjadi awal terjadinya carok.

Budaya sarung yang ada di Madura, kebanyakan didominasi oleh masyarakat yang pernah tinggal di Pondok Pesantren. Dengan memondokkan anaknya di pesantren maka perilaku memakai sarung terbawa hingga masa -masa dewasa. Sebagai pakaian sehari-hari, era tahun 2000 mulai ngettran budaya memakai sarung dan peci, banyak juga masyarakat Madura menyontoh sikap para blater (bajingan) dengan memakai peci (songkok) yang tinggi, tujuannya biar mereka ditakuti atau dianggap seorang blater, dengan membawa celurit atau senjata tajam. padahal blater yang sebenarnya memiliki sikap yang royal, baik hati dan bijaksana.

Celurit Madura ada banyak bentuknya, ada Bangtoroi dan Bulu Ajem (bulu ayam) serta Kedang saarep ( Mirip Pisang) panjang di depan agak melikuk. Di daerah Galis dan Blega ada yang namanya calok bujur, bentuknya sama-sama memiliki keunggulan, barangkali itu agak tipis seperti samurai.

Carok jarang terjadi dengan orang-orang pendatang, masyarakat luar Madura. Carok terjadi antara masyarakat Madura sendiri. Carok bisa secara berkelompok, kalau orang desa yang satu dengan desa lain ada konflik, cara bercaroknya bisa direncanakan, misalnya antara masyarakat kota Sampang dan Pamekasan beberapa tahun yang lalu, yang terjadi di kota Surabaya.

Hukum bagi orang yang bercarok sebenarnya bersifat tidak tertulis, namun pemerintah harus menghukum setiap pembunuh dengan hukuman penjara. Di Madura sendiri ada hukum yang tidak tertulis, pelaku carok yang membunuh musuhnya, hukumannya dia akan dikucilkan dari pergaulan di masyarakat. Dampaknya, anak anak dan keturunannya bisa mendapatkan hal serupa.

Sebagai masyarakat Madura, kita seharusnya mampu memperkenalkan segi positif dari carok. Kita harus lebih banyak merilis berbagai segi positif perihal carok, agar orang tahu bahwa carok itu bukan budaya orang Madura. Kita seharusnya menceritakan bahwa carok bukan kebiasaan Madura. Semakin banyak dirilis dari segi positifnya, maka anggapan buruk tentang carok akan menghilang dengan sendirinya.

Bahkan, dalam pemilihan kepala desa (klebun) pun sering terjadi carok karena adanya fanatisme terhadap tokoh-tokoh yang ada di masyarakat, bahkan sampai menghabiskan uang berjuta-juta rupiah. Orang Madura terbiasa menyebut kata carok ketika melihat ada dua orang yang bertengkar atau berkelahi. Pertengkaran di Madura ada dua, Carok dan Atokar,

Carok adalah pertengkaran antara dua orang yang memakai celurit dan ada korbannya. kalau Atokar adalah jenis pertengkaran karena ada kesalah pahaman atau karena faktor balas dendam tetapi tidak memakai senjata. Di Madura, peristiwa ini sering terjadi terutama di kampung-kampung pedalaman sehingga, menjaga diri dan perasaan orang lain, adalah cara yang lain untuk menghindari terjadinya carok antar masyarakat Madura. (fd)

Fendi Chovi

Author: 

Fendi Chovi, senang menulis dan jalan-jalan. Pernah bekerja di korankabar.com Berkesempatan menghadiri ASEAN Blogger Festival dan sederet kegiatan blogger baik tingkat nasional dan daerah. Saat ini aktif di komunitas blogger Plat-M, Madura dan Komunitas Lintas Agama Young Interfaith Peacemakers Community Indonesia (YIPCI). Cita-citanya ingin punya karya yang diterbitkan Kompas Gramedia. Boleh berbagi di twitter @fendichovi Boleh berkunjung ke blog : mapping-map.blogspot.com

Related Posts

One Response

  1. OTEMA #1: Asal Usul Madura dan Carok bag.1 | Plat-M | Komunitas Blogger Madura14/10/2011 at 19:46Reply

    […] Sebetulnya persoalan carok bisa diselesaikan secara kekeluargaan, akan tetapi masih ada pihak keluarga yang tidak terima, terutama dari pihak ibu, terkadang seorang ibu memanas –manasi suasana seperti “ lebih baik kamu pakek BH dan Celana dalam saja kalau tidak mau bertengkar atau membalas atas kematian keluargamu, walaupun orang Madura mendapatkan didikan agama yang sangat kuat tetapi bagi mereka “ lebih baik putih tulang dari pada putih mata”. baca artikel selanjutnya […]

Leave a Reply

Buktikan kalau kamu adalah manusia! * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.