Nambakor, Desa 1000 Kincir Angin

 Madura, Sumenep

Pemandangan di Desa Nambakor

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Melihat foto  diatas tahukah anda dimana itu ?
Foto diatas adalah pemandangan yang sudah sering kita jumpai ketika kita akan menuju ke kota Sumenep, kota paling ujung timur Madura yang sering disebut juga dengan Songenep, kota Sumenep juga dikenal dengan kota kuda terbangnya J

Daerah diatas tersebut adalah desa Nambakor, desa dengan hamparan tambak yang membentang luas dari ujung timur sampai barat, telah beratusan tahun Nambakor terkenal dengan tambak garam dan ikannya bahkan pada masa penjajahan Belanda-pun Nambakor tidak luput dari perhatiannya yaitu dibangunlah beberapa pompa air dengan teknologi tercanggih di kala itu untuk mengontrol pengairan ke tambak-tambak garam dan ikan, sampai saat ini kita masih bisa menemui beberapa pompa air yang masih berfungsi dengan baik yang terletak di sepanjang sungai besar yang sengaja dibangun untuk mengairi air laut sampai ke tambak-tambak garam dan ikan.

Pompa Air peninggalan Belanda

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Keindahan desa Nambakor semakin terasa menjelang pagi dan sore ketika mentari terbit dan terbenam, selain itu di waktu menjelang sore para masyarakat setempat berbondong-bondong menuju ke tambak sambil membawa dhemar (red.semacam alat penerangan dengan bahan bakar minyak) dengan jumlah berpuluh-puluh biji,

Mungkin anda bingung buat apa dhemar sebanyak itu ?
Tidak lain untuk penerangan bagi parayang, mungkin kalian masih bingung apa sih parayang itu ?
Parayang
adalah salah satu alat penangkap ikan yang terbuat dari bambu kemudian dibentuk berbentuk hati atau daun waru. Setelah sampai di tambak Parayang diturunkan kemudian ditaruh dan diikat supaya tidak terbawa arus tambak, kemudian setelah diikat ditaruhlah dhemar tadi didalam parayang tersebut fungsinya untuk memikat ikan dan udang-udang untuk masuk ke dalam dengan cahayanya, kemudian parayang ditinggal semalaman ditambak dan besok paginya di naikkan lagi ke permukaan untuk dipunggut hasilnya, jika kalian kesini jangan heran kalau di sepanjang jalan raya menuju ke kota sumenep pas melewati Nambakor terdapat lampu-lampu kecil yang terletak beraturan dan rapi di sepanjang pingggir tambak-tambak tidak lain lampu itu berasal dari dhemar tadi.

Prayang Khas Nambakor

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Untuk petani garam mereka biasanya beraktivitas pada waktu siang hari, karena membutuhkan sinar matahari untuk menjemur garam dan membolak balik garam, pada saat musim panen tiba biasanya di pinggir sepanjang jalan desa terdapat tumpukan karung yang berisi garam yang siap dikirim ke PT.Garam atau ke pabrik-pabrik garam untuk diolah.

Kincir angin tambak Nambakor

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Di samping itu di lahan tambak garam kita bisa menjumpai kincir-kincir angin yang dibuat untuk mengatur jalannya air masuk ke tambak, dan di setiap tambak pasti ada kincir anginnya, jika kita  melihat mungkin seperti di Negeri Kincir Angin (red.Belanda).

Di tidak sedikit yang tertarik dengan keindahan desa Nambakor bahkan film “Mestakung” yang disutradarai oleh John De Rantau pernah membuat film disini yaitu di areal tambak-tambak garam.

Author: 

Blogger. Pine Tech Consultant. Mozilla Developer. Firefox Student Ambassadors. National Geographic Indonesia. Greenpeace Indonesia

Related Posts

3 Responses

  1. gold price07/08/2012 at 00:29Reply

    Jika musim hujan tiba tambak-tambak tidak terpakai dan aktivitas masang parayang-pun juga terhenti, Para nelayan banyak beralih ke mata pencaharian menggarap padi disawah, jika musim kemarau para petani garam mulai menggarap lagi dan para petani tembakau mulai banyak menanam benih-benih, Inilah sedikit cerita tentang desaku yang mempunyai banyak nilai eksotika tapi terabaikan..

  2. rotyyu19/07/2012 at 07:58Reply

    Ada tambak garam juga ya? Ayo hunting ke sana

  3. wahyualam

    wahyualam19/07/2012 at 06:04Reply

    Yap. Keren sekali bro.
    Belanda memang sangat ahli kalau masalah perairan. Seharusnya Jakarta banyak perlu belajar ke Belanda agar tidak banjir terus.

    Andai ada foto Nambakor di malam hari, pasti akan lebih keren bro.
    Kapan2 kita Len-jelen ke sana yah.

    Kemarin sempat lihat saat ziarah ke Sumenep, tapi sangat panas jika dikunjungi siang hari.

Leave a Reply

Buktikan kalau kamu adalah manusia! * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.