“Mestakung Menduniakan Madura”

 Berita, Pamekasan, Sumenep

Sayef berakting di tengah tambak Garam di Sumenep

Adanya Film Mestakung (SeMESTA menduKUNG) menjadi sebuah keuntungan tersendiri bagi Pulau Madura. Film ini memberitahu kepada seluruh rakyat Indonesia kalau Madura tidak seperti apa yang dibayangkan. Madura juga bisa berprestrasi dan mempunyai berbagai sisi yang menarik untuk diketahui, mulai dari sejarah, budaya, potensi pariwisata, sampai kehidupan sosial masyarakatnya. Tokoh yang ada di film tersebut juga sangat menggambarkan keadaan sosial dan watak orang Madura yang keras tetapi tetap menjunjung tinggi nilai-nilai etika.

Orang Madura juga terkenal “pekerja keras” persis seperti yang dilakukan tokoh utama dalam film tersebut yaitu Mohammad Arif dan ayahnya yang diperankan oleh Lukman Sardi. Film yang diambil di Kabupaten paling timur Madura, Sumenep ini juga bisa sejajar dengan film motivasi yang ada di Indonesia seperti Laskar Pelangi dan Sang Pemimpi. Kalau Laskar Pelangi di Belitong, Sumatera. Madura punya Mestakung.

Setelah menyuguhkan film Denias, Senandung di Atas Awan, sutradara John De Rantau kembali menghadirkan karya film terbarunya. Seperti halnya film sebelumnya, film teranyar yang diberi judul Semesta Mendukung (Mestakung), memberi muatan pendidikan bagi penontonnya.

Film yang diproduksi Mizan Production dan Falcon Picture ini, mengangkat tentang kuatnya persahabatan, kecintaan pada ilmu fisika juga sarat akan arti sebuah keluarga.

Mestakung terinspirasi dari gemilangnya putra-putri Indonesia dalam meraih prestasi dan mengharumkan nama bangsa di dunia internasional lewat olimpiade sains.

Adalah Muhammad Arief (Sayef Muhammad Billah) anak dari Pamekasan Madura yang terus berjuang untuk meraih jawara dalam olimpiade fisika. Dia berusaha memenangkan uang dari olimpiade tersebut untuk mencari ibunya, Salmah (Helmalia Putri). Sang ibu pergi ke Singapura karena tak tahan dengan kelakuan suaminya, Muslat (Lukman Sardi), yang doyan berjudi.

Hasrat Arief untuk menggapai mimpinya dilirik Tari (Revalina S Temat), guru fisika yang melihat bakat dan kesungguhannya. Arief juga mendapat dukungan dari Tio Yohannes (Ferry Salim) dan Deborah Sinaga (Febby Febiola) yang memberikan bantuan kepada Arief saat berada di Jakarta.  Tak lupa peran inspiratif seorang tukang ketoprak, yang dimainkan oleh Indro Warkop. – KOMPAS.com 

Film yang disutradarai John De Rantau itu mulai dirilis 20 Oktober 2011. Soundtrack film ini digarap oleh band Goliath. Selain itu, irama lagu daerah Madura, ‘Tanduk Majeng’ dan lagu ‘Indonesia’ karya Powerslaves juga ikut menyemarakkan film ini. Selain itu Febby Febiola, Dinda Hauw, dan Indro ‘Warkop’ juga tampil di film ‘Mestakung’. Penampilan khusus dari Profesor Yohanes Surya juga ada di film produksi Mizan ini. — VIVAnews 

Sebuah film yang menggambarkan kuatnya tentang persahabatan, kecintaan pada sains, dan arti kasih ibu

Film ini terinspirasi dari kisah-kisah kegemilangan putra-putri Indonesia mengangkat nama bangsa Indonesia di kancah dunia internasional lewat pelbagai olimpiada sains. 

Muhammad Arief (Sayef Muhammad Billah), anak dari sebuah keluarga miskin dari Sumenep, Madura, sangat menggemari sains, khususnya fisika. Meski tinggal jauh dari kota besar dan bersekolah dengan fasilitas yang serbaminim, Arief tetap menekuni  fisika 

Arief tinggal bersama ayahnya, Muslat (Lukman Sardi), mantan petani garam yang beralih profesi menjadi sopir truk serabutan karena ladang garam sedang dilanda paceklik. Lantaran kondisi ekonomi  keluarga yang serba kekurangan itu, ibu Arief, Salmah (Helmalia Putri), terpaksa bekerja sebagai TKW di Singapura.  Setelah bertahun-tahun  belum juga kembali, dan tidak pernah memberi kabar,  Arief sangat merindukannya. Arief bekerja di bengkel sepulang sekolah dengan cita-cita mengumpulkan uang untuk mencari ibunya. Arief akan dibantu oleh Cak Alul (Sudjiwo Tedjo)

Ibu Tari Hayat (Revalina S. Temat), seorang guru fisika,  melihat bakat besar yang dimiliki Arief. Berkat dorongan Ibu Tari, Arief ikut seleksi olimpiade sains yang akan diadakan di Singapura. Namun, sesungguhnya Arief memiliki agenda tersembunyi: menemukan ibunya di sana

Seleksi dilakukan oleh Pak Tio Yohanes (Ferry Salim) di Jakarta, yang dibantu oleh Deborah Sinaga (Febby Febiola). Para peserta bersaing untuk lolos, sekaligus menjalin persahabatan. Arief menjalin persahabatan dengan Muhammad Thamrin (Angga Putra), dan Clara Annabela (Dinda Hauw). Akankah Arief berhasil lolos seleksi dan ikut olimpiade fisika dunia? Dan apakah Arief menemukan ibunya kembali?

Jenis Film :
Drama
Produser :
Putut Widjanarko
Produksi :
Mizan Productions & Falcon Pictures
Durasi :
0

Cast & Crew

Pemain :
Revalina S. Temat 
Lukman Sardi 
Ferry Salim 
Feby Fabiola 
Helmalai Putri 
Indro Warkop 
Sujiwo Tejo 
Sutradara :
John De Rantau 
Penulis :
Hendrawan Wahyudianto 
John De Ranta

 

Trailer:

 

Wahyu Alam

Author: 

moslem - blogger - traveler - founder of @plat_m - UTM lecturer - book reader - social media - #ihateLate - t: @wahyualam - b: wahyualam.com

Related Posts

4 Responses

  1. berri anam

    berri anam09/01/2013 at 00:41Reply

    Film yang bikin gue merinding dan tanpa sadar netes air mata…..
    semoga MESTAKUNG jadi milik kita semua.

  2. rotyyu29/10/2011 at 23:28Reply

    Senyumnya Dinda Hauw manis banget. Itu yg paling aku ingat dari film ini 🙂

  3. fazza24/10/2011 at 10:42Reply

    pilem yang keren mari nonton bareng 🙂

  4. Mestakung “Laskar Pelangi”-nya Madura | Wahyu Alam's24/10/2011 at 10:15Reply

    […] “Mestakung Menduniakan Madura” di Plat-M.com ShareTweet […]

Leave a Reply

Buktikan kalau kamu adalah manusia! * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.