Menjaga Ungkapan Madura

 Bangkalan, Budaya, Madura, Pamekasan, Sampang, Sosial, Sumenep
masyarat madura

Ilustrasi: kehidupan sosial masyarakat Madura.

Seperti kebanyakan daerah lain di negeri ini, maka di pulau Madura sepertinya tidak jauh berbeda. Budaya menyapa ketika bertemu juga sudah menjadi bagian dari masyarakat Madura yang tidak bisa dihilangkan di berbagai daerah. Biasanya, ketika mereka bertemu di jalan kalau tidak bersalaman (dalam hal ini mirip seperti orang berjabat tangan tapi dibarengi salam) sambil bertanya-tanya keadaan masing-masing dimulai dari si penanya kepada orang yang ditanyakan. Budaya ini menjadi perekat hubungan dan keharmonisan serta kelebihan yang sampai saat ini masih dipelihara di Madura terutama di masyarakat-masyarakat pedesaan.

Budaya sopan santun seperti di atas, seperti saling menyapa atau budaya berbagi adalah bagian yang seringkali ditemukan di Madura. Di luar itu, orang Madura juga tergolong masyarakat humoris. Itu terjadi ketika mereka sering meledek dengan ungkapan-ungkapan bahasa setempat antara tetangga-tetangga. Ungkapan yang sering terlontar semisal oreng djujur, mate ngonjur?ungkapan itu memiliki arti yaitu orang jujur akan mati dengan selamat. Itu biasanya dijadikan nasehat kepada masyarakat yang tidak bisa menjaga kejujurannya, lalu dinasehati agar berbuat kejujuran selama masih hidup.

Ada juga ungkapan yang sedikit kurang sopan tapi ini menunjukkan kehumorisan orang Madura, seperti karepe konce tarebung manyang, e kepe poke tedung nyaman. Jika orang mendengarkan kalimat ungkapan itu, pasti geli dan juga sedikit terdengar kurang sopan, kalau ungkapan itu diucapkan oleh anak-anak muda yang masih sekolah, maka itu sangat dilarang karena kurang sopan tapi jika diucapkan oleh orang tua yang sama-sama mencari bahan ledekan maka itu begitu menyenangkan. Itu hanya diucapkan oleh kelas bawah dari stratifikasi masyarakat Madura. seperti petani dan nelayan.

Namun, orang Madura juga sangat sensitive terhadap bahasa yang kurang sopan diucapkan ketika antara si pendengar dan si pembicara tidak sedang bermaksud untuk saling meledek. Ini bisa menjadi runyam ketika keduanya tidak bisa menjaga lisannya masing-masing. Kadang bisa membawa kepada pertengkaran yang rumit. Ungkapan popular di Madura seperti?mon e tobi sake ajje nobi oreng laen?yang berarti kalau dicubit sakit jangan mencubit orang lain. sepertinya tidak hanya dalam bentuk mencubit atau menyakiti bentuk fisik tapi juga dalam bentuk ucapan. Jika itu dilakukan, maka orang Madura akan sedikit banyak tidak bisa mengontrol diri dengan ulah orang-orang yang melakukan hal serupa. Benar juga, lidah tak bertulang itu lebih sangat berbahaya bagi seseorang. Hal ini, kemudian menjadi pembenaran, sakit dalam bentuk fisik karena dipukul itu masih bisa sembuh tapi sakit karena ucapan itu sangat tidak mengenakkan sekali. Dan sulit dilupakan oleh orang lain.

Untuk itu, meskipun orang Madura memiliki rasa humor yang tinggi melalui ungkapan-ungkapan bahasa lokal Madura namun bermain humor itu bisa menjadi kurang menyenangkan ketika yang mencupkan bukan lawan bicara dalam setiap aktivitasnya sehari-hari. Yang biasa dijadikan teman untuk saling meledek seperti yang mereka lakukan satu dengan yang lain.

Fendi Chovi

Author: 

Fendi Chovi, senang menulis dan jalan-jalan. Pernah bekerja di korankabar.com Berkesempatan menghadiri ASEAN Blogger Festival dan sederet kegiatan blogger baik tingkat nasional dan daerah. Saat ini aktif di komunitas blogger Plat-M, Madura dan Komunitas Lintas Agama Young Interfaith Peacemakers Community Indonesia (YIPCI). Cita-citanya ingin punya karya yang diterbitkan Kompas Gramedia. Boleh berbagi di twitter @fendichovi Boleh berkunjung ke blog : mapping-map.blogspot.com

Related Posts

Leave a Reply

Buktikan kalau kamu adalah manusia! * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.