Mengingat Guru

 Berita, Pengumuman, Sosial

Plat-M mengikuti roadshow @IDBerkibar

Kalau menyebutkan kata “guru” seolah kita kembali kepada kenangan kisah-kisah di sekolah atau peristiwa-peristiwa masa lalu yang sulit dilupakan. Semisal kita dipuji karena mengharumkan nama sekolah, atau kita dicubit oleh guru sehingga kulit badan ini memerah atau dibentak karena tidak memahami materi yang diajarkannya, itulah peristiwa indah dan pahit di sekolah.

Berkenaan dengan sosok guru, saya akan menyebutkan seorang alumni de sorbone perancis, Andrea Hirata, penulis novel best-seller “Edensor” ini pernah bercita-cita untuk mengenang gurunya. Hanya karena, ketika hujan deras turun, guru itu pergi ke sekolah dengan selembar daun pisang hanya karena ingin mengajarkan murid-muridnya yang berjumlah sepuluh orang itu. Dari peristiwa itu, lahirlah novel “Laskar Pelangi” yang memukau untuk mengenang gurunya, ibunda Muslimah Hafsari atau dipanggil Bu Mus.

Bukan hanya, Andrea Hirata, kita pasti memiliki guru yang istimewa, walaupun kita tidak pernah mengabadikannya menjadi kisah hidup seperti Andrea Hirata.

Gramedia Expo Surabaya, kenangan akan sosok guru

Momen itu kembali hadir tanggal 20 September ini, sebuah kenangan tentang jasa dan kehebatan seorang guru, sebagai tenaga pendidik di lembaga pendidikan bernama “ sekolah”.

Bagi saya, meskipun seorang guru marah tetapi kemarahan itu karena kasih sayang akan masa depan murid-muridnya, yang diimpikannya menjadi manusia berpendidikan. Barangkali guru marah, karena kenakalan kita dan ketidak mampuan kita menyerap apa yang diajarkannya. Itulah kejengkelan masa-masa kita belajar bersama guru, yang dianggapnya monster selama proses belajar mengajar itu.

Syukurlah, pada tanggal 21 September ini, saya mendapatkan kesempatan berbagi dan mendengarkan diskusi tentang guru dengan tema, “Guru Pahlawanku, Lentera Abad 21” dalam diskusi program Gerakan Indonesia Berkibar.

Ruangan Exekutif Meeting Room, Gramedia Expo Surabaya ini seakan memberikan kenyamanan saat mendengarkan para pembicara berbagi banyak hal mengenai profesi seorang guru.

Dan diskusi pun berjalan lancar dan peserta terlihat aktif. Dan ada beberapa peserta bertanya dan sampai menggugat model pengajaran guru yang tidak profesional, barangkali memang nasib guru untuk seringkali dihujat, dipersalahkan apabila muridnya tidak berhasil dan gagal menerapkan etika sopan santun. Guru lalu akan dikatakan kurang berhasil dan gagal. Meskipun kita mengetahui bahwa guru adalah pahlawan tanpa jasa. Maka, biarpun berusaha keras kalau akhirnya tidak diberi imbalan tetaplah masih kurang etis buat jasa seorang guru. Namun syukurlah, meski tanpa jasa seorang guru tetap mengajar dan bertanggung jawab.

Salah seorang penanya memprotes, “Eh, kata siapa seorang guru tanpa jasa, bahkan sekarang seorang guru berlumuran dengan jasa lewat tunjangan hidup akan profesinya itu”. Ungkapnya di dalam forum.

Meskipun kita tahu, tidak semua guru mendapatkan “tunjangan” tetapi beberapa guru sudah hidup makmur. Kenapa orang itu lagi-lagi menghujat seorang guru?, betapa nestapanya profesi sosok yang bernama “guru” itu.

Bahkan peserta yang lain juga menyayangkan jika guru dinyatakan pahlawan tanpa jasa, guru saat ini sudah penuh dengan beragam jasa meskipun orang itu tidak menyebutkan secara rinci jasa-jasa yang diberikan kepada guru. Namun, saya tetap menganggap bahwa sosok guru adalah seorang pahlawan yang harus dihormati, karena kalau semua guru protes untuk mogok dan tidak mengajar karena rendahnya gaji maka bagaimana jadinya institusi pendidikan dan nasib anak-anak di negeri ini. Dan pada saatnya, harapan besar pendidikan di sekolah tetaplah disematkan kepada guru, sebagai penanggung jawab, bukan kepada yang lain.

Dan kita juga tahu bahwa institusi pendidikan saat ini masih penuh dengan intrik-intrik manipulatif oleh para stake holder pendidikan itu sendiri. Dan guru tetaplah sosok yang diharapkan mampu mewarnai kinerja para stake holder terhadap kebijakan-kebijakan yang dilakukannya.  Jika tidak maka seorang guru itu hanya berjalan mengikuti sistem sekolah yang selalu bergerak untuk kemajuan meskipun dilalui dengan cara-cara yang tidak sehat, misalnya kasus mencontoh masal ketika UAS demi memikirkan nasib dan status sekolah. (saya sarankan kepada para guru, untuk membaca novel “Ranah Tiga Warna” karya A. Fuadi yang menuliskan dialoq seorang guru yang menentang kebijakan kepala sekolah yang ingin melakukan tindakan tidak terpuji hanya karena ingin menaikkan status sekolah).

Tawaran Untuk Para Guru

Dan untuk meningkatkan profesionalitas guru, beberapa hal akan saya tawarkan diantaranya,

Pertama. Guru harus benar-benar menjadi pengajar yang menyampaikan pesan moral dan untuk materi pelajaran yang berkenaan dengan bidang studinya agar tidak terlalu monoton sehingga membosankan. Seorang guru harus mampu menciptakan ruang pembelajaran yang menyenangkan, inspiratif, dan tidak kaku. Bahkan hukumnya wajib bagi guru untuk menginspirasi murid-muridnya, keluar dari pemikiran yang dangkal. Guru harus mampu membuat muridnya berfikir luas dan bermimpi besar. Bercita-cita lebih besar lagi. Dan janganlah menjadi guru, hanya sekadar menjadi guru dengan maksud menerima tunjangan, sehingga essensi dari menjadi guru hilang dan tidak memberikan output apa-apa. Guru harus keluar dari sikap guru yang lain, bukan sekadar mengajar dan mengajar tetapi harus membawa murid-muridnya lebih sukses dari dirinya, tentunya guru itu harus keluar dari cara berfikir yang sempit tentang pendidikan itu sendiri.

Kedua. Seorang guru harus memiliki managemen pembelajaran yang efektif, tidak kaku, jelimet dan membosankan. Seorang guru harus pintar untuk berbagi dan mengajarkan materi pelajaran dengan profesional melalui teknik mengajar yang memesona. Kembali kepada novel Andrea Hirata,  beberapa teknik pembelajaran dan gaya mengajar dijelaskan dengan baik (bolehlah, saya menyarankan, wahai para guru, bacalah novel Laskar Pelangi dan Sang Pemimpi, yang diterbitkan oleh PT. Bentang Pustaka).

Ketiga. Network yang baik. Seorang guru harus mampu membangun dan mencari jaringan yang banyak ke luar institusi sekolah. Jaringan itu penting. Semakin banyak jaringan akan semakin banyak peluang menambah wawasan dan mengantarkan murid-muridnya lebih berhasil. Jika guru memiliki jaringan yang luas, ia bisa memanfaatkan seluruh potensi murid-muridnya untuk melanjutkan sekolah setinggi-tingginya, terutama dari keluarga yang tidak mampu secara finansial, semisal jaringan tawaran beasiswa untuk sekolah lanjut ataupun jaringan mengenai materi pelajaran yang lebih bermutu.

Terlepas dari kelebihan dan kekurangan seorang guru,  bagi saya guru tetaplah pahlawan. Karena seorang guru akan menyelamatkan jutaan anak-anak bangsa dari buta huruf yang pernah menimpa leluhur-leluhur bangsa ini, akibat minimnya guru di zaman kolonial. Dengan ini, masihkah kita menganggap sosok guru sebagai pahlawan kesiangan?

Kutulis ini tengah malam di Asrama mahasiswa UTM, hehe …

Fendi Chovi

Author: 

Fendi Chovi, senang menulis dan jalan-jalan. Pernah bekerja di korankabar.com Berkesempatan menghadiri ASEAN Blogger Festival dan sederet kegiatan blogger baik tingkat nasional dan daerah. Saat ini aktif di komunitas blogger Plat-M, Madura dan Komunitas Lintas Agama Young Interfaith Peacemakers Community Indonesia (YIPCI). Cita-citanya ingin punya karya yang diterbitkan Kompas Gramedia. Boleh berbagi di twitter @fendichovi Boleh berkunjung ke blog : mapping-map.blogspot.com

Related Posts

Leave a Reply

Buktikan kalau kamu adalah manusia! * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.