Kereta Api (KA) di Madura barangkali hanya tinggal rel-nya saja, sedangkan bagian-bagian dari rel itu sebagian sudah berlepasan. Jika kita sempat berjalan-jalan ke Kecamatan Kamal Bangkalan, maka di sisi jalan raya menuju pelabuhan dari desa Telang masih tersisa rel kereta api tersebut. Jalan ini, merupakan salah bagian dari sejarah bahwa Madura pernah menjadi wilayah kolonialisasi bangsa Belanda.

Dari beberapa literatur tentang kepulauan Madura yang penulis dapatkan, pulau Madura ini identik dengan pulau yang mudah dijadikan area kekuasaan oleh orang luar. Dari babad-babad Jawa maupun dari surat para pedagang VOC ternyata, setelah Madura dikuasai, 40.000 orang baik muda maupun tua diangkut sebagai tranmigran ke daerah-daerah Gresik dan Jortan yang jarang penduduknya. Hal ini, menandakan kepulaun Madura menjadi tempat bersarangnya para kolonial.

Di dalam literatur yang lain, bahkan sejak VOC mengambil kekuasaan atas Madura dari tangan Mataram, kemudian VOC menyerahkan sendiri pemerintahannya kepada raja-raja Madura. Pada pertengahan abad ke-19 Madura mempunyai status yang sama dengan Jawa yaitu dikuasai secara langsung oleh pejabat kolonial. Beberapa raja dijadikan petugas-petugas pribumi dan digaji seperti rekan-rekannya di Jawa.

Menurut De Jonge (1989) dalam bukunya, “agama, kebudayaan, dan ekonomi”? bahwa pajak diganti dengan iuran relatif rendah. Karena saat itu, pajak atas tanah dan pajak rumah tangga dihapuskan. Sistem kerja paksa dikurangi. Namun para kolonial itu datang kembali, pada tahun 1989 pemerintah kolonial membangun pabrik garam briket di Kalianget. Kemudian perusahaan swasta Belanda Madura Stoostra Matschapij membuka jaringan kereta api antara Kamal dengan Kalianget.

Kita mungkin bertanya, di mana sisa rel kereta api yang menghubungkan kamal dengan kalianget tersebut sekarang? Sampai saat ini, penulis juga masih belum melihat ada sisa-sisa jalan rel kereta api di daerah sumenep. Namun setelah saya telusuri dari berbagai sumber, ternyata baru diketahui bahwa terdapat sejarah kelam tentang kereta api di Madura. Kejadian ini bermula pada masa kekuasaan Jepang. Jalur kereta api Kalianget – Pamekasan di bongkar oleh tentara Dai Nippon dengan mengerahkan tenaga Romusha. Besi rel kereta api itu dijarah oleh bangsa Jepang untuk mesin-mesin perang Pasifik (perang dunia II).

Maka, wajarlah kalau sisa-sisa perjalanan kereta api di Sumenep tidak bersisa. Kalau di Kamal sisa-sisa itu masih utuh sampai sekarang, meskipunn tidak lagi bisa digunakan.

Lalu setelah bangsa ini merdeka, jalur KA hanya tersisa dari Pamekasan dan Kamal. Kereta ini siap mengangkut para penumpang, tetapi para penumpang di berbagai Madura hanya berheti kamal dan sisanya perjalanan mereka harus naik kapal.

Beberapa waktu lalu, ada isu bahwa Madura akan dibangun jalur transportasi kereta api kembali. Semoga kenangan masa lalu itu tidak lekang oleh waktu, juga bisa menjadi sejarah bagi anak cucu Madura bahwa pulau garam ini pernah dilintasi kereta api.

fendi

Blogger, penggemar fotografi dan catatan perjalanan. Minat menulis esai dan segala apa saja yang menarik baginya. Itu saja. ^_^ Bangkalan, Madura, Jawa Timur ? fendichovi.wordpress.com - @fendichovi

More Posts - Website