Mengenal Tingkatan Bahasa Madura

 Madura, Sosial

tingkatan bahasa Madura

Ada banyak hal yang harus diperhatikan dalam belajar bahasa Madura. Mulai dari penulisan, aksara yang digunakan, tanda baca, pronounciation atau pengucapan, hingga tingkatan bahasanya (speech levels).

Seperti yang diketahui, Madura itu punya empat kabupaten yaitu Bangkalan, Sampang, Pamekasan, dan paling ujung di timur sana adalah Sumenep. Dengan kepemilikan empat kabupaten yang berbeda, maka bahasa Madura yang digunakan sehari-hari oleh masyarakat juga berbeda.

Uniknya lagi, pengucapan untuk suatu kata itu berbeda di setiap kabupaten. Bahkan untuk satu kata saja itu bisa berbeda di setiap kabupaten.

Contoh paling gampang adalah penyebutan kata “Anda” dan “Saya”

Bangkalan: Anda menjadi Bâ’na, kalau di daerah Kamal menjadi Hèdha (dibaca hedheh), Saya menjadi Engko’ (serapan Sèngko’)
Sampang: Anda menjadi Kakeh (bahasa kasar dari Bâ’na), Saya tetap Engko’ (serapan Sèngko’)
Pamekasan: Anda menjadi Be’en (serapan Bâ’na), Saya tetap Engko’ (serapan Sèngko’),
Sumenep: Anda menjadi Bâ’na, Saya menjadi Bulê (dibaca Buleh)

Perbedaan ini tentu tidak umum, karena biasanya penduduk yang tempat tinggalnya dekat dengan pusat kota, sudah menggunakan bahasa Madura yang mudah dimengerti atau biasanya sudah berbahasa Indonesia. Perbedaan mencolok seperti ini bisa kita temukan di beberapa wilayah perdesaan atau pesisir, di mana masyarakatnya masih menggunakan bahasa Madura tanpa intervensi bahasa Indonesia.

Kalau Anda ke Madura, Anda bisa saja bertemu dengan orang yang mungkin berbicara dengan aksen berbeda. Di Madura, wilayah kabupaten Sumenep dan Kepulauannya yang dianggap sebagai “Solo” nya Madura misalnya, mereka dalam percakapan sehari-hari pun, masyarakat Sumenep seringkali menggunakan bahasa yang cukup halus dan dengan tempo yang pelan.

Perbedaan aksen ini sangat kentara jika Anda tinggal dalam waktu yang cukup lama di Madura. Kalau anda ingin tau bagaimana, sering-sering naik angkot atau belanja di pasar.

Semoga membantu. Kita tunggu kunjungannya ke Madura ya tretan! (NR/NWA)

***

Catatan:

Menurut Kamus Bahasa Madura (Adrian Pawitra: 2009), Bahasa Madura mempunyai tiga tingkat bahasa (speech levels).

  1. Umum (Iyâ-enjâ’) = Lomra {L} – diistilahkan tingkat bahasa kasar.
  2. Menengah (Èngghi -enten) = Tenggaan {T} – tingkat bahasa menengah
  3. Tinggi/Halus (Èngghi-bhunten) = Alos {A} – tingkat bahasa halus.

Inilah contoh kata menurut tingkatan bahasa:

  • {L}: sèngko’(= saya); bâ’na (=kamu)
  • {T}: bulê (= saya); dhika (=kamu)
  • {A}: kaulâ (= saya); sampèyan (=kamu)
  • {AT}: bhâdhân kaulâ (= saya);; panjhennengan, padhâna (= saya) – tingkat bahasa paling tinggi yang biasa digunakan masyarakat priyayi atau keraton, atau diucapkan pada acara-acara adat.

 ** tulisan ini terinspirasi dari #RabuLokal-nya Nurir Rohmah di Facebook.

Wahyu Alam

Author: 

moslem – blogger – traveler – founder of @plat_m – UTM lecturer – book reader – social media – #ihateLate – t: @wahyualam – b: wahyualam.com

Related Posts

2 Responses

  1. Pifa ptk26/08/2016 at 16:55Reply

    Baru tau gan, ternyata tiap kabupaten beda2 ya…

  2. Umar Fadil21/05/2015 at 08:19Reply

    Nah walaupun saya orang madura, kadang saya masih kurang faham jika berkomunikasi dengan orang yang beda kabupaten. Katena keanekaragaman bahasa Madura..

Leave a Reply

Buktikan kalau kamu adalah manusia! * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.