Mengajari Anak Cakap Berbahasa

 Bangkalan, Madura, OTEMA, Pamekasan, Pengumuman, Sampang, Sosial, Sumenep

Di Madura, sejak dulu, beberapa orang tua mulai menggalakkan mengajari anak-anaknya cakap berbahasa Madura dengan baik, dengan tingkatan-tingkatan bahasa yang ada. Meliputi penggunaan bahasa halus, semi halus dan kasar. Beberapa orang tua sudah menanamkan kecapakan berbahasa kepada anaknya semenjak kecil. Program ini, seharusnya mulai digalakkan kembali seiring banyaknya orang Madura yang mulai terdidik dan berpendidikan. Kecakapan berbahasa ini, meliputi etika berbahasa dan nilai-nilai kebahasaan.

budaya_madura

Di kepulauan Madura, satu hal yang sangat menarik yang selalu diajarkan oleh orang tua kepada anak-anaknya ketika masih kecil adalah kalimat : “mon etobi’ sake’ ejje’ nobi’ reng laen” yang berarti kalau kamu disakiti orang lain merasa sakit ya, janganlah menyakiti orang lain. Dari bahasa itulah, terkadang anak-anak di Madura diajarkan tentang arti menjaga diri, terutama dari sikap dan ucapan yang sekiranya tidak menyakiti orang lain. Sebab banyak sekali, anak-anak menjadi kasar perangainya lantaran sejak kecil anak-anak itu tidak diajarkan tata cara berbicara yang baik oleh orang tuanya. Sehingga kata-kata senonoh seringkali terlontar dari ucapannya yang ujung-ujungnya menyakiti orang lain.

Mengajari anak-anak cakap berbahasa di samping anak-anak harus pinter berbahasa sehingga terlihat cerdas dari kata-kata yang diucapkannya, juga mengajarkan anak cakap berbahasa untuk pembelajaran agar anak memahami esensi bahasa yang diucapkannya menjadi sebuah identitas martabat diri dan kampung halamannya. Ini hal yang sulit sekali dijalani tetapi jika anak-anak terbiasa belajar ini sedari kecil, maka ketika besar martabat dirinya akan terpancar dari ucapan dan sikapnya dengan berbahasa yang selalu tidak menyakitkan orang lain.

Patek Jere !!!

Kata di atas, seringkali ditemukan dan diucapkan orang kebanyakan orang-orang Madura waktu dulu sekarang sudah jarang. Ungkapan Patek Jere berarti kamu anjing. Kadangkala kita melihat banyak orang marah dan lepas kontrol dalam berbicara yang kadang mengeluarkan kata-kata serapah dan tidak beretika dan tidak pantas untuk diucapkan karena sedari kecil anak-anak tersebut barangkali minim pengajaran berbahasa yang baik. Kemampuan berbahasa yang baik merupakan tingginya pendidikan dan juga kemampuan intelektualitas yang dimiliki oleh seseorang. Sehingga meskipun ia sedang emosi dan marah, ia masih bisa mengontrol bahasa yang yang baik sebagai balasan.

Di Madura, berbagai tingkatan bahasa yang masih berlaku hingga saat ini, seharusnya menjadi program bagi orang tua dan juga tenaga pendidik agar memerhatikan kecakapan berbahasa dalam diri seorang anak. Dengan partisipasi mereka, maka anak-anak sudah diajarkan cakap berbahasa artinya anak-anak sudah diajarkan menggunakan bahasa sesuai dengan fungsinya. Maka, tak berlebihan kalau kelak, sikap andhap ashor alias sikap menyenangkan dalam pergaulan dan rendah hati akan selalu ditemukan pada anak-anak Madura untuk hari-hari mendatang, sehingga streotif orang Madura yang kasar dan keras akan sedikit demi sedikit menjadi menghilang seiring dengan kecakapan berbahasa tersebut.

Twitter : @ahmadfendi1

Fendi Chovi

Author: 

Fendi Chovi, senang menulis dan jalan-jalan. Pernah bekerja di korankabar.com Berkesempatan menghadiri ASEAN Blogger Festival dan sederet kegiatan blogger baik tingkat nasional dan daerah. Saat ini aktif di komunitas blogger Plat-M, Madura dan Komunitas Lintas Agama Young Interfaith Peacemakers Community Indonesia (YIPCI). Cita-citanya ingin punya karya yang diterbitkan Kompas Gramedia. Boleh berbagi di twitter @fendichovi Boleh berkunjung ke blog : mapping-map.blogspot.com

Related Posts

Leave a Reply

Buktikan kalau kamu adalah manusia! * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.