Nak-kanak Blogger di Hutan Bukit Geger

Untuk menduniakan Madura, Plat-M membuat sebuah program yang diselenggarakan setiap tiga bulan sekali yaitu Len-jelen Bareng (Jalan – Jalan Bersama). Len-jelen Bareng biasanya datang ke sebuah tempat yang menarik untuk di ekplorasi setelah itu ditulis di blog dengan harapan banyak orang yang lebih mengenal lebih dekat wajah Madura sesungguhnya, tidak ada lagi komentar negatif tentang Madura, Madura mempunyai berbagai potensi yang perlu diketahui dan dilestarikan. Edisi pertama Plat M Len-jelen ke Mercusuar, edisi kedua Len-jelen ke Sampang, sedangkan edisi ketiga ini memilih tempat Bukit Geger atau orang Madura menyebutnya Gunong Gegger.

Bukit Geger berada kurang lebih 30 Km arah tenggara Kota Bangkalan, tepatnya di desa Geger, Kecamatan Geger.
Dari Kota Bangkalan lurus terus ke arah utara yaitu ke arah kecamatan Arosbaya, lalu ke timur kearah kecamatan geger.
Disitulah bukit itu berada. Bukit tersebut mudah dijangkau karena letaknya tepat dipinggir jalan raya.

Bukit ini berada di ketinggian sekitar 150-200 meter diatas permukaan laut. Obyek wisata ini bagus untuk wisata alam/ wisata hutan, dan biasanya dibuat sebagai lahan bumi perkemahan dan sebagai tempat olahraga pendakian.

Bukit ini juga memiliki 5 (lima) goa legendaris dan amat bersejarah, nama-namanya dalam bahasa madura kurang lebih jika di Indonesiakan seperti dalam kurung yaitu: Goa Petapan (gua tempat semedi), Goa Potre (gua putri), Goa Planangan (gua laki-laki), Goa Pancong Pote (gua pancung putih), dan Goa Olar (gua Ular).

Konon, Bukit Geger menjadi tempat manusia pertama yang menginjakkan kaki di bumi Madura. Ceritanya, pada abad ke 7-8 Masehi, Patih Pranggulan dari Kerajaan Medang di Kaki Gunung Semeru disebut-sebut sebagai orang pertama yang mendarat di Planggirân (tumpukan batu karang) di bukit Geger. Saat itu dia membawa Dewi Ratna Rorogung, anak Raja Medang yang sedang hamil.

Keduanya terdampar di Planggiran setelah mengarungi lautan dengan rakit. Di bukit Geger itu, Dewi Ratna Rorogung mendapat julukan Potre Koneng. Putri yang satu ini punya kebiasaan bersemedi di tepi tebing. Rutinitas itu dilakukan setiap hari menjelang matahari terbenam. Kini, batu mirip kursi itu disebut Palènggiyân (Madura, Red). Hingga akhirnya lahirlah Raden Segoro dari rahim Dewi Ratna Rorogung.

Tak hanya batu Palènggiyân, di Bukit Geger terdapat banyak situs bersejarah. Diantaranya Goa Petapan, Goa Potre, Goa Planangan, Goa Pancong Pote, dan Goa Olar. Hingga kini di lokasi tersebut banyak dijadikan tempat tirakat oleh masyarakat. Baik masyarakat yang berasal dari Madura maupun dari luar.

Untuk masyarakat luar Jatim, kebanyakan berasal dari Cirebon, Banten, dan Tasikmalaya. Bahkan ada yang datang dari Malaysia dan Brunei. Kebanyakan, masyarakat memilih Goa Petapan dan Goa Potre untuk tempat tirakat.

Menurut kisahnya, Goa Petapan menjadi tempat bertapa Adipodai dan Goa Potre tempat bertapa Potre Koneng. Pada Abad 13, Aryo Kuda Panoleh (Jokotole) yang bergelar Seco Diningrat III hendak berperang dengan Sampotoalang -Dampo Awang (Laksamana dari Cina). Sebelum bertempur, Jokotole menghadap Adipodai di Geger. Sampai akhirnya dia mendapat senjata pamungkas berupa pecut.

Saat bertempur, Jokotole menunggangi kuda terbang. Sedangkan Dampoawang naik perahu terbang. Dalam perang tanding satu lawan satu, Dampoawang beserta perahunya berhasil dihancurkan tepat di atas Bancaran (artinya, bâncarlaan), Bangkalan. Piring Dampoawang jatuh di Ujung Piring-sekarang nama desa di Kecamatan Kota Bangkalan. Sedangkan jangkarnya jatuh di Desa/Kecamatan Socah.

Nah, berawal dari cerita itu saat ini Goa Petapan dan Goa Potre dijadikan tempat tirakat oleh masyarakat. Di dua tempat yang dianggap keramat tersebut banyak yang mendapatkan benda-benda yang diyakini memiliki kekuatan mistik. (http://robertstyn.wordpress.com)

Sapi ikut dalam kemacetan lalu lintas

Kemacetan di Pasar Tanah Merah (Sattoan)
Parkir motor, sekalian melepas lelah

Setelah sempat diterpa macet karena pasar Sapi di Tanah Merah; Sattoan (Sabtuan) merupakan pasar yang ramai pada hari Sabtu. Beberapa ekor sapi terlihat disela-sela macetnya transportasi dari arah Sampang ke Bangkalan begitu sebaliknya. 100 meter dari Pasar Tanah Merah 14 blogger Madura belok kiri dan menyisiri jalan naik-turun khas daerah pegunungan menuju kaki Bukit Geger. Jalan menuju kaki Bukit sedikit terjal dan berbatu, perlu kekuatan ekstra untuk menarik gas motor hingga sampai ke kaki Bukit. Di kaki Bukit ada rumah warga yang dijadikan tempat parkir, sebelum naik ke Bukit, nak-kanak blogger melepas lelah sejenak sambil minum es campur yang dijual tepat dipinggir lahan parkir.

Mulai melakukan pendakian

Ayo Kadho’! Petualangan dimulai, dengan semangat nak-kanak blogger menaiki satu demi satu tangga hingga sampai di puncak Bukit Geger. Seorang petualang yang menginap di atas Gunung Geger menyambut kita dengan ramah bahkan bersedia membantu kita untuk mengeksplorasi lebih dalam Bukit Geger. Setelah menikmati petilasan Potre Koneng, nak-kanak blogger berubah menjadi nak-kanak pencinta alam ketika harus mendaki beberapa bukit yang terdiri dari batu mirip batu karang, satu persatu naik ke atas yang merupakan salah satu puncak Bukit ini. Dari puncak, terlihat hijaunya Madura dari atas, begitu tentram dan damai. Momen ini tidak disiakan nak-kanak untuk diabadikan dan di upload di blog masing-masing.

Silsilah Potre Koneng (RA. Tunjung Sekar)
Nak-kanak Blogger Madura
Pendakian ke puncak bukit Geger
Berpose di puncak Bukit Geger

Setelah capek mendaki puncak, Guide Plat-M mengajak nak-kanak masuk ke dalam hutan bukit Geger, jalan setapak harus dilewati bergantian, tumbuhan yang rimbun menjadi rintangan kecil menuju tempat yang dituju Guide. Meski harus berjalan kaki menyusuri semak belukar yang rimbun, tetapi ketika sampai di Pengelean rasa capai itu hilang ketika memandangi pemandangan hijau terhampar di depan mata. Pengelean ini berada di bagian badan bukit bagian barat, beberapa batu gamping terlihat di badan bukit. Terlihat batu indah yang menurut Guide tempat para Wali dulu menenangkan diri (semedi).

Petualang yang sudah berbulan-bulan di Bukit Geger setia menjadi Guide Plat-M

Awas Jatuh!! : Menikmati Panorama dari atas Pengelean

Menikmati Panorama dari atas Pengelean

Pengelean mengakhiri Len-jelen Bareng #3 yang seperti sebuah Ekspedisi Pecinta Alam, tapi merupakan pengalaman baru luar biasa yang harus diposting di blog. :)

Foto lengkap Len-jelen Bareng #3 di Bukit Geger

Wahyu Alam

moslem - blogger - traveler - founder of @plat_m - software quality assurance - book reader - social media - #ihateLate - t: @wahyualam - b: wahyualam.com

More Posts - Website

Follow Me:
TwitterFacebookLinkedInGoogle Plus