Lebih Dekat Dengan Murka’, Maestro Keris Sumenep

 Sumenep

“Keris Aeng Tongtong banyak dipasarkan ke kota besar di Indonesia, seperti Jakarta, Surabaya, Bandung, Yogyakarta, dan Denpasar. Keris dari desa itu ada juga yang diekspor ke Singapura, Brunei, Malaysia, Amerika, dan negara-negara Eropa. Itulah sebabnya, lantaran sedemikian banyaknya sebaran keris Madura, maka di mana pun ada penjual keris, pasti ada keris Madura di dalamnya. Itulah keris dari Aeng Tongtong”.

***

Saat Plat-M Lenjelen ke Desa Aeng Tongtong, Saronggi, Sumenep

Saat Plat-M Lenjelen ke Desa Aeng Tongtong, Saronggi, Sumenep

Jalan menuju rumahnya di desa Aeng Tongtong sedikit berdebu. Kendati pada Minggu siang di awal November 2013 itu Sumenep diguyur hujan, tapi curah airnya belum mampu melenyapkan debu kemarau di tanah paling Timur Pulau Madura itu.

Maka jadilah, kepulan debu menyebar dan membubung di belakang kendaraan yang kami tumpangi. Pohon-pohon lontar, pohon-pohon kuda tempat cabe hutan merambat, pun jadi kian kusam oleh sambaran debu.

Pada pagi yang mendung itu, saya memang sengaja ke desa tersebut untuk bertemu dengan seorang empu keris yang karya-karyanya telah meluas jauh hingga Singapura, Brunei Darussalam, Malaysia, dan juga kota-kota besar di Indonesia. Dialah Murka’, lelaki kelahiran tahun 1943 yang lahir dan dibesarkan di bumi Aeng Tongtong.

Barangkali lantaran jauh dari pusat kota, sehingga jalan menuju Desa Aeng Tongtong juga belum beraspal. Rada mengherankan juga, sebab jika Pemda Sumenep berniat mengembangkan kawasan ini sebagai wisata budaya, tentunya jalan mulus bisa mengundang banyak turis datang ke wilayah ini untuk menyaksikan pembuatan keris secara langsung.

Desa Aeng Tongtong adalah satu di antara beberapa wilayah penghasil dan pembuat keris yang terdapat di Pulau Madura yang masih bertahan dari zaman Kerajaan Sumenep sampai sekarang. Desa Aeng Tongtong sendiri terletak di sebelah barat laut Kecamatan Saronggi dan masih masuk kawasan Kecamatan Saronggi.

Aeng Tongtong dalam bahasa Madura berasal dari kata “aeng” yang berarti air, sementara “tongtong” adalah bejana yang dibawa dengan cara dijinjing. Mengapa diberi nama demikian, alasannya karena letak geografis Desa Aeng Tongtong yang ada di lereng bukit dan berbatu-batu, menyebabkan warga harus membawa semacam gentong untuk mendapatkan air di mata air yang terletak di bagian barat Desa Aeng Tongtong.

Desa Aeng Tongtong sendiri menurut sejarah adalah tempat, di mana para raja di Keraton Sumenep mempercayakan kepada penduduk setempat untuk membuat keris, maka secara tidak langsung satu persatu penduduk desa Aeng Tongtong menjadi Mpu (Sebutan bagi orang yang membuat keris). Konon keahlian itu merupakan hasil warisan dari Pangeran Bukabu, Beliau merupakan guru para raja yang ada di Sumenep. Keahlian itu pun terpelihara hingga sekarang.

Setelah satu kilometer masuk jalan kampung dari arah jalan raya, anak kedua Pak Murka yang bernama Larip (40) menuntun kami dari jalan besar dengan sepeda motornya memasuki sebuah gang yang di dalamnya berderet rumah tembok bergaya tradisi Sumenep. Setelah melewati deretan rumah berukuran kecil yang berjajar rapi, Larip pun belok kiri. Maka di sebuah rumah sederhana, telah menunggu seorang tua yang diperkenalkan oleh sanak saudaranya bernama Murka’.

Murka', Maestro Keris dari Sumenep

Murka’, Maestro Keris dari Sumenep

Inilah orang yang saya cari. Murka yang kini berusia 70 tahun, suami Amsiyani (65). Dialah salah satu maestro keris yang dimiliki oleh Desa Aeng Tongtong yang masih hidup. Beberapa kali pertanyaan saya tidak ditangkap dengan baik oleh Pak Murka’. Larip bilang, pendengaran ayahnya sudah berkurang.

Sejak terjatuh di rumahnya sekira enam bulan lalu, kehidupan Murka’ sebagai pembuat keris memang berubah. Usianya yang telah tua, menyebabkan sakitnya tak lekas enyah. Itulah sebabnya bapak dua anak ini memerlukan bantuan anak-anak dan menantunya untuk berjalan atau ketika menerima tetamu.

“Tapi belakangan beliau sudah mulai berkarya kembali, tentu saja untuk pekerjaan yang ringan. Misalnya, mendesain keris,” tutur Larip mengenai kondisi sang ayah.

Dibantu oleh Larip, sang ayah pun bercerita tentang perjalanan hidupnya sebagai seorang pembuat keris. Menurut Murka’, kepandaiannya membuat keris lebih mirip ‘pemberian’ dari Tuhan. “Saya nggak pernah belajar sama siapa saja,” kata Murka’.

Murka mulai mengenal keris sejak usia tujuh tahun. Maklumlah, Aeng Tongtong memang dikenal sebagai ‘desa keris’. Bahkan, pada masa penjajahan Belanda, banyak keris-keris dari Aeng Tong Tong dibawah ke Belanda sebagai oleh-oleh atau sebagai hadiah kepada para panglima perang sebagai tanda keberanian.

Setelah akrab dengan keris, Murka’ pun mulai mendalami keris. Saat usianya menginjak 20 tahun, Murka telah berani mengerjakan perbaikan keris-keris yang rusak. Dari waktu ke waktu, Murka’ yang memang berbakat juga pada bidang senirupa, mulai memberanikan diri membuat keris sendiri. Hasilnya, sungguh menakjubkan. Selain berkharisma, keris bikinan Murka’ lebih indah karena disertai sentuhan seni rupa yang dimiliki oleh Murka.

Pesanan pun datang silih berganti. Selain melayani pembeli yang menginginkan kerisnya sebagai koleksi, Murka juga melayani pembuatan untuk oleh-oleh. Untuk yang hiasan atau oleh-oleh,? pamor dan ukirannya dibuat lebih sederhana. Pamor sendiri adalah ukiran yang terdapat dibatang keris biasanya mengkilat karena pamor itu berasal dari batu meteor yang jatuh dari langit dan untuk yang bertuah biasanya mendapat perlakuan khusus yaitu ritual lelaku si Mpu dalam membuat keris dengan berpuasa selama 3-7 hari tergantung tingkat kesulitannya. Setelah itu baru dibuat dan selama proses pembuatan si Mpu tidak boleh bicara sedikitpun tetapi harus konsentrasi dalam pembuatan keris bertuah tersebut.

Sampai saat ini jumlah penduduk yang membuat keris di Aeng Tongtong mencapai 90% dan sisanya adalah petani. Pesanan pun tidak pernah sepi setiap harinya, sehingga jika anda berkunjung ke sana pasti mendengar bunyi dentingan besi ditempa dan mesin gerinda berdering yang menghiasi sudut-sudut desa.

Seperti di sekeliling rumah Pak Murka’. Di samping kanannya juga terdengar besi yang dipukul palu berkali-kali. Itulah Abdurrazak yang sedang menempa keris agar terbentuk sesuai keinginannya. Razak selama ini lebih banyak memenuhi pesanan keris souvenir. Sementara di depan rumah di pinggir gang, empu keris lainnya yang bernama Niwari juga sedang menyelesaikan beberapa keris jenis souvenir.

***

Kini, Murka’ adalah satu yang tersisa dari maestro keris yang ada di Aeng Tong Tong yang mampu membuat keris istimewa dengan harga yang cukup tinggi. Generasi di bawah Murka’, jika dikumpulkan semua, maka jumlah empu di Sumenep sungguh menakjubkan banyaknya. Ada 554 empu kerIS yang tersebar di tiga kecamatan, atau di sepuluh desa. Kecamatan Bluto tercatat 300 orang pengrajin keris yang tersebar di enam desa, Desa Palongan (150 orang), Aeng Baje (40 orang) Kandangan (35 orang) Gingging (25 orang), Sera Timur (30 orang), Karang Campaka (20 orang).

Kecamatan Saronggi, ada 204 pengrajin yang tersebar di tiga desa, yakni Desa Aeng Tongtong (150 orang), Talang (29 orang), Juluk (25 orang), sementara di Kecamatan Lenteng ada 50 orang yang tersebar di tiga desa, yakni Desa Lenteng Barat (40 orang), Lembung Barat (7 orang), Lembung Timur (3 orang).

Dari 554 empu keris, mampu mengekspolrasi 450 bentuk dan nama keris dari zaman ke zaman. Sehingga keris buatan empu Sumenep terus di minati oleh kolektor keris dari berbagai belahan dunia.

Di usianya yang telah senja, Murka’ tetap bersemangat untuk berkarya. Terbukti, meski dalam kondisi sakit, kakek empat cucu ini sudah mulai mengawasi Larip bekerja membuat keris.

Sebetulnya, kendati produksi keris Aeng Tongtong mulai marak pada 1960-an–berbarengan dengan awal tumbuhnya Murka’ sebagai seorang empu keris, namun sebenarnya desa itu memiliki sejarah panjang soal pusaka. Menurut RM Srihono Darmodiningrat, 75 tahun, anggota organisasi Javanologi Jawa Timur, saat Trunojoyo, tokoh dari Pamekasan, Madura, memberontak pada Kerajaan Mataram yang didukung Belanda pada 1600-an, semua pusaka pengikutnya dipasok dari Aeng Tongtong. “Pasukan Trunojoyo tak pernah kekurangan senjata karena selalu dipasok oleh empu-empu dari Aeng Tongtong,” kata Srihono.

Seperti Murka’, empu-empu setelahnya tak hanya mahir membuat keris, tapi juga senjata pusaka lainnya, seperti mata tombak, trisula, dan pisau. Keahlian para empu yang rata-rata relatif muda itu sebagian karena warisan orang tuanya yang juga seorang empu. Sebagian lainnya karena mereka memang belajar sendiri.

Jika ada yang berubah, kini peralatan untuk membuat keris lebih modern. Dulu, agar bisa diukir dan dibentuk pamornya, keris dibakar di paron (besi landasan tempa), tapi sekarang cukup dengan api las. Sementara untuk menajamkan sisi keris, dulu empu sering menggunakan kikir. Tapi sekarang banyak yang pakai beji.

Tak hanya itu, menurut Larip yang setia mendampingi Murka’ saat wawancara berlangsung, perubahan tradisi membuat keris juga terus berlangsung di desanya. Tradisi membuat keris yang dimulai dari tirakat memang masih berlangsung di Aeng Tongtong, namun jumlahnya kian
sedikit. Biasanya, untuk keris ‘bertuah’, empu itu berpuasa tiga hari sebelum mulai membuat keris pusaka. Dalam laku tirakatnya itu, sang empu tidak boleh bicara dan berhubungan intim. Konon, jika dilanggar, maka tuah pusaka yang dibikin akan berkurang. Sebelum membuat keris biasanya cukup mengadakan selamatan pada malam Jumat Legi.

Pelajaran berharga yang diwariskan Murka’ kepada anaknya maupun generasi setelahnya, adalah kecapakapan dan kesanggupan untuk membuat aneka ragam senjata, tak hanya membuat keris gaya Jawa saja. Gaya Bali pun biasa, bahkan gaya Malaysia, Brunei, pun bisa dikerjakan.

Kini, berkat ketauladanan Murka’ dan empu keris seangkatannya, dalam sepekan, keris yang dihasilkan Aeng Tongtong bisa mencapai ratusan bilah. Sebab, selain para empu yang tak mengejar jumlah seperti Murka’, banyak pembuat keris di sana yang bisa menghasilkan puluhan keris dalam sepekan. Sebagian besar keris yang dihasilkan desa itu berupa bilah keris yang telah dihiasi pamor. Adapun warangka (sarung keris) dan pegangannya biasanya dipesan dari daerah lain di luar Madura, seperti Yogyakarta. Meski begitu, di sana juga ada perajin yang khusus membuat warangka. Salah satunya Sasrudi, 38 tahun, warga Palongan. Sasrudi biasa membuat warangka bila ada pesanan dari pengepul atau empu.

Kini, keris Aeng Tongtong banyak dipasarkan ke kota besar di Indonesia, seperti Jakarta, Surabaya, Bandung, Yogyakarta, dan Denpasar. Keris dari desa itu ada juga yang diekspor ke Singapura, Brunei, Malaysia, Amerika, dan negara-negara Eropa. Itulah sebabnya, lantaran sedemikian banyaknya sebaran keris Madura, maka di mana pun ada penjual keris, pasti ada keris Madura di dalamnya. Itulah keris dari Aeng Tongtong.

Murka’ menambahkan, empu Aeng Tongtong tak membikin keris dari nol. Mereka mengambil bahan baku yang sudah setengah jadi dari pandai besi di Desa Lenteng Barat, Sumenep. Bahan bakunya berupa besi baja yang diambil dari Surabaya. Kemudian empu-empu itu tinggal membentuk menjadi keris yang lebih halus serta memberi polesan pamor agar tampak lebih indah.

Lain dengan zaman Murka’ ketika masih muda, di mana keris hanya dihargai lima puluh sen atau setengah rupiah. Sekarang harga keris dari Aeng Tongtong telah melambung tinggi. Untuk keris setengah jadi yang belum dikasih pegangan dan warangka dipatok Rp 100 ribu. Namun sesungguhnya, ujar Larip, harga sebilah keris memang relatif. Apalagi jika yang membeli adalah seorang kolektor, maka harganya bisa sangat tinggi. Harga keris buatan Aeng Tongtong berkisar ratusan ribu hingga puluhan juta rupiah per buah.

Biasanya, seorang pembeli melihat sosok keris itu dari unsur dhapur (tipe atau bentuk), tangguh (perkiraan tahun pembuatan), wilah (bilah), dan pamor (motif). Bila unsur-unsur itu telah terpenuhi, barulah unsur berikutnya turut melengkapi, yaitu rangka dan pegangannya. Rangka yang paling bagus, berupa kayu kemuning atau cendana. Adapun pegangannya dari gading gajah. Kalau semua terpenuhi, harganya bisa mencapai ratusan juta,” katanya.

Dhapur keris yang belakangan banyak diminati, adalah Guling Mataram dan Megantoro. Juga dapur keris Majapahit. Biasanya kalau diminati harganya tinggi.

Usia Murka’ memang telah senja, namun dirinya tak pernah merasa kesepian. Sebab, apa yang dia perbuat, bukan saja telah mengharumkan nama Aeng Tongtong, melainkan juga memberi kemakmuran desanya yang tandus. Lihatlah, kini ratusan anak-anak muda telah menjadi penerusnya dalam membuat keris. Dan dengarlah pada tiap pagi hingga petang, bunyi palu beradu dengan besi selalu terdengar, sebagai pertanda kehidupan di Aeng Tongtong terus menggeliat, bersama karya seni berupa keris yang sudah menyebar ke seluruh dunia.

Disadur dari: KOMPAS.com

Wahyu Alam

Author: 

moslem – blogger – traveler – founder of @plat_m – UTM lecturer – book reader – social media – #ihateLate – t: @wahyualam – b: wahyualam.com

Related Posts

Leave a Reply

Buktikan kalau kamu adalah manusia! * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.