Pak Kiai sedang memanggil para santrinya satu per satu

Madura sangat kental dengan Pondok Pesantren dan segala macam kegiatan keagamaan. Banyak pesantren besar dan terkenal yang tersebar di Pulau penghasil garam ini. Pesantren-pesantren tersebut beberapa merupakan peninggalan para penyebar agama Islam sekaligus pemimpin daerah. Sebut saja di Bangkalan, ada seorang wali penyebar agama Islam yang cukup terkenal seantero Indonesia bahkan dunia, beliau bernama Syaichona Cholil. Anak-anak beliau juga mendirikan pondok pesantren. Tidak heran kalau pondok pesantren di Bangkalan kebanyakan berakhiran Cholil. Ada Pondok Pesantren Syaichonan Cholil sendiri, Pondok Pesantern  Ibnu Cholil, Pondok Pesantern Nurul Cholil, dan masih banyak yang lainnya.

Orang tua di Madura kebanyakan mewajibkan anak-anaknya untuk menuntut ilmu agama di Pesantren atau di Madrasah-Madrasah yang tersebar di pelosok. Hampir setiap desa mempunyai Madrasah tempat anak-anak di desa tersebut menuntut ilmu agama pada siang hari setelah bersekolah di SD pagi harinya.

Berikut sebuah penggalan cerita sala satu Madrasah di sebuah desa di pedalaman Bangkalan yang ditulis dengan gaya diary-writing (istilah sendiri).

***

Siang menjelang sore itu matahari bersinar dengan sempurna. Membuat kulit ini terasa kering payau. Konsentrasiku hari it tertuju pada Madrasah Bustanul Amal, tempatku menuntut ilmu agama kala masih kecil sampai remaja. Di Madrasah inilah aku bisa mengetahui ilmu fiqih, ilmu tajwid, tauhid, tareh nahwu, hadist, dsb.

Selasa, 23 Pebruari 2011 aku akan kembali ke Madrasah itu. Bukan sebagai santri, tapi sebagai “juru foto” untuk para santri yang ada di sana. Pak Kiai menyuruhku untuk memotret wajah-wajah lugu santri untuk melengkapi dokumen-dokumen Madrasah sebagai syarat mendapatkan dana dari Pemerintah.

Menunggangi shogun dengan senang hati aku tarik gas “motor buntut” ini berangkat ke Madrasah. Kamera digital hasil pinjaman, dan laptop tersimpan di tas punggung hitamku. Lokasi Madrasah tidak jauh dari rumahku.Hanya tiga menit menaiki motor, aku sudah sampai di Madrasah yang bersebelahan dengan Masjid Al-Kabir ini.

Aku sering pergi ke Masjid ini pada malam hari ataupun jikalau subuh. Sebenarnya aku kenal betul keadaan dan suasana masjid, kebetulan aku dan teman-teman kampung sering membantu kegiatan-kegiatan masjid, oleh karena itu aku dan teman-temanku menjuluki perkumpulan kita ini sebagai REMAS – Remaja Masjid.

Tapi pergi ke masjid Al-Kabir pada sore hari membuatku teringat waktu menuntut ilmu agama di Madrasah ini selepas sekolah dasar. Para santri yang memakai sarung, baju koko putih, peci hitam terus me-load ingatan ini. Ustadz Ahmad yang mengajar di sini sudah menungguku. Beliau lah yang menyuruhku untuk memotret teman-teman santri.

Wajah-wajah harapan bangsa dimasa mendatang

Kaki terus melangkah menuju halaman madrasah, para santri yang masih terlihat lugu menyambut kedatanganku. Pak Kiai berhenti mengajar kemudian keluar kelas menyapaku, aku merasa bersalah karena menghentikan proses belajar mengajar. Tanpa disuruhpun tangan ini seolah bergerak sendiri bersalaman dengan Pak Kiai seraya mencium tangannya menambah rasa yang susah untuk dikatakan.

Akhirnya, meski hanya berlatarkan tembok bercat hijau, pemotretan santri dilakukan. Suasana sangat riuh, ramai dan tidak kondusif. Susah untuk membayangkan jikalau aku menjadi pengajar di sini. Gelak tawa canda serta penasaran dengan kamera yang aku pegang menghiasi siang menjelang sore di Madrasah Bustanul Amal. Pak Kiai memegang absen untuk memanggil satu per satu santri untuk diabadikan wajahnya. Suara Pak Kiai nyaris tidak terdengar olehku dan mungkin oleh para santri juga. Jari telunjukkan aku sentuhkan beberapa kali di bibir sebagai isyarat supaya para santri mendengarkan panggilan dari Pak Kiai. Namanya juga anak-anak, tetap saja suruhanku tidak dihiraukan.

Dengan bantuan kacamata dan sebuah buku absensi ditangannya, Pak Kiai mulai memanggil nama-nama santri. Suaranya beberapa kali tak bisa aku dengar karena suasana riuh dengan suara santri. Aku sempat berpikir perlu sebuah pengeras suara agar suara Pak Kiai bisa terdengar. Aku hanya bisa mendengar letupan kata terakhir dari nama santri yang disebutkan. Tapi aku merasa takjub sekaligus exicited ketika ditengah keramaian dan nyaris tidak bisa mendengar suara panggilan dari Pak Kiai, para santri ternyata bisa mendengar suara yang biasa mengajarnya di kelas. Seolah mempunyai telepati, santri yang dipanggilpun berjalan menuju bangku yang disediakan untuk pemotretan. Bagaimana dia bisa mendengar suara kecil dibalik keramaian ini, bukannya hanya satu santri, tapi semuanya. Entah karena ada hubungan batin antara pengajar dan siswa atau hanya kharisma seorang Kiai begitu besar, sehingga meski dengan gerakan bibir saja para santri sudah bisa mendengar apa yang dikatakan oleh Kiainya.

Akupun menggerakan kamera Sonyku mengatur agar mendapatkan gambar yang baik, beberapa santri berada di belakangku penasaran dengan kamera yang aku bawa. Ustadz Ahmad mengatur posisi dan memperbaiki peci santri yang kurang tepat. Satu per satu santri sudah aku abadikan di memory kamera. Pengalaman takjubku berakhir setelah hidungku menyentuh tangah Kiai yang dulu juga pernah berjasa mengajariku ilmu agama seraya berpamitan pulang karena ada urusan lain. Aku meninggalkan Madrasah dengan pikiran yang masih kagum dengan kejadian luar biasa yang aku lihat dan rasakan.