#KartiniSemangken: Menjadi Perempuan di Era Digital

 Berita, Sosial

“Kami disini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak-anak wanita, bukan sekali-kali karena kami menginginkan anak-anak wanita itu menjadi saingan laki-laki dalam hidupnya. Tapi karena kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya yang diserahkan alam (sunatullah) sendiri ke dalam tangannya: menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama”. (Surat Kartini kepada Prof. Anton dan Nyonya, 4 Oktober 1901)

Terpatri jelas dari surat tersebut. Kartini ingin memberikan kebebasan kepada wanita Indonesia untuk dapat mengeyam pendidikan. Ikut andil dalam segala perkembangan bangsa. Karena wanita adalah pendidik manusia pertama. Apa jadinya jika wanita-wanita di suatu bangsa tidak terdidik, maka sudah dapat dipastikan anak-anaknya pun tak terdidik.

Pesan Kartini lebih seabad yang lalu tersebut sudah mengindikasikan agar wanita dapat kesempatan memberikan peran di lingkungannya. Hal itulah yang ingin diangkat Plat-M dalam acara memperingati Hari Kartini. Acara bertajuk Kartini Semangken tersebut mempunyai tema ‘menjadi perempuan di era digital’. Tema yang sangat relevan dengan kehidupan saat ini.

Plat-M mendapatkan kehormatan, saat Indah Julianti –akrab disapa bunda Injul– berkenan hadir ke Madura untuk sharing bagaimana menjadi perempuan yang hidup di era digital.

Menurutnya, menjadi perempuan di era digital seperti sekarang ini haruslah ikut aktif dan terus mau belajar. Bagaimanapun perkembangan teknologi tak dapat dibendung lagi. Perempuan harus tetap eksis dengan segala keistimewaanya. Salah satunya dengan aktif bersosial, baik offline ataupun online. Tujuannya selain memberikan inspirasi kepada orang lain juga dapat belajar tentang perkembangan terbaru dunia luar. Tentu hal ini tidak akan didapatkan jika hanya berdiam diri di rumah.

Selain itu, Bunda Injul juga sharing tentang profesinya sebagai blogger dan penulis. Ia memberikan tips kepada peser -kebanyakan perempuan- yang hadir, bagaimana menjadi blogger yang baik. Menurut salah satu peserta yang hadir, Ria Lyzara dalam blognya mengatakan:

“Untuk mendukung kita dalam menulis, dibutuhkan juga yang namanya “betah” membaca. Peka dengan keadaan sekitar juga diperlukan. Apalagi sekarang teknologi semakin canggih. Sebagai perempuan yang menjadi calon madrasah pertama bagi anaknya, kita kudu tahu juga perkembangan ilmu, teknologi jaman sekarang. Bunda Injul pun mencontohkan kehidupannya beserta keluarganya. Beliau memberikan kebebasan untuk anaknya dalam berkembang. Namun tetap under control. Nah, untuk itu, beliau cukup peka dengan kemajuan teknologi jaman sekarang”

Kartini Semangken - Menjari Perempuan di Era Digital

Pendapat berbeda dilontarkan Nila Wilda, ia menulis di blognya: “acara kartinian ini, benar-benar berbeda dari tahun lalu, mungkin kalau tahun lalu yang hadir kebanyakan laki-laki sekarang yang hadir kebanyakan perempuan, jadi kalau tahun lalu malu bertanya ke pemateri, kalau sekarang gak malu lagi untuk bertanya, sebab sudah banyak perempuannya. Kalau tahun kemaren dianterin senior Plat-M Pamekasan, sekarang aku berangkat sendiri ke Bangkalan, dan membawa pengikut baru buat Plat-M. Rasanya benar-benar berbedah dari tahun lalu.”

Acara ini tak hanya dihadiri oleh ‘Kartini’, tetapi ‘Kartono’-pun ikut menghadiri. Sayadi adalah salah satu laki-laki yang hadir. Menurutnya, acara ini memotivasi perempuan Madura agar menjadi pelopor kebangkitan perempuan di tanah Garam. Sebagai Srikandi penerus Kartini di era digital, perempuan Madura harus bisa berkarya seperti yang dilontarkan oleh Bunda Injul.

Acara berlangsung meriah. Peserta hadir dari berbagai daerah, seperti Pamekasan, Surabaya, hingga Kediri. Foto bersama menjadi sajian penutup acara Kartini Semangken yang di gelar di Warung Ka Fe Ka, Bangkalan.

 

Anam Nasrudin Choirul

Author: 

Seorang mahasiswa yang suka ngeblog

Related Posts

Leave a Reply

Buktikan kalau kamu adalah manusia! * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.