Giliyang, Serpihan Batuan Surga di Tanah Madura

 Len-Jelen Bareng, Madura, Sumenep, Wisata

Siapa bilang tanah Madura itu gersang?

 

Hahah, emang gersang… tapi eksotis.

Ya, Madura itu eksotis. Banyak sekali hal-hal unik dan menakjubkan yang belum tersorot dengan benar dari Madura. Kebudayaan, Sejarah, Alam serta Baharinya, tak kalah dengan wilayah Indonesia lainnya. Siapa sangka, di Madura terdapat pulau dengan kadar oksigen tertinggi kedua di dunia. Pulau dengan lautan biru kala mata memandang. Pulau yang sebagian besar tersusun dari batuan dan karang.

Giliyang, Sumenep.

Foto: Slametux

Foto: Slametux

Mendapatkan kesempatan untuk mengeksplor lebih dalam lagi tentang Pulau Giliyang, Plat-M mengajak beberapa blogger Jatim untuk ikut serta. Dipandu langsung oleh Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda Dan Olahraga Kabupaten Sumenep, rombongan berangkat menuju pelabuhan Dungkek, Sumenep. Perjalanan dilanjutkan dengan perahu kurang lebih sekitar 45 menit. Bersama deburan ombak pagi yang tiada henti menggoyangkan perahu kami, sampailah kita di Pulau batuan surga, Giliyang.

Gili Iyang

Giliyang, Sumenep

 

Batu Sponge

Jalanan Batu Sponge Gili iyang Sumenep

Jalan menuju spot Batu Spoge, Giliyang

Sempat terdiam sejenak, tak percaya kita berada di pulau Madura. Disambut dengan tatanan jalan yang memukau, serta udara sejuk meskipun matahari bersinar terik. Batu Sponge ini merupakan salah satu spot dimana kadar oksigen tertinggi kedua di dunia terdeteksi. Nama Batu Sponge sendiri tercipta dikarenakan batuan disini memiliki banyak rongga. Jika dilihat secara seksama sih, lebih mirip sarang semut raksasa.

Batu Sponge Gili Iyang Sumenep (2)

Batu Sponge, Giliyang

Dari atas batuan ini, kita bisa menikmati pemandangan lautan biru Madura. Sembari bersantai menikmati semilir angin sejuk yang mungkin hanya akan kita rasakan di Giliyang.

Puncak Batu Sponge Gili Iyang Sumenep

Puncak dari Batu Sponge, Giliyang

 

Pantai Ropet

Pantai Ropet Gili Iyang Sumenep

Pantai Ropet, Giliyang

Pantai ini sebenarnya merupakan tebing batuan karang eksotis, terbentuk secara alami oleh kikisan ombak. Airnya yang jernih, membuat kita bisa melihat karang-karang hidup beserta ikan-ikan kecil menari mengelilinginya. Seakan-akan mereka mengajak kita berenang bersama. Rasanya agak berdosa jika kita mengabaikan ajakan mereka.

Pantai Ropet Gili Iyang Sumenep (2)

Karang di Pantai Ropet, Giliyang

 

Gua Mahakarya

Gua Mahakarya Gili Iyang Sumenep(3)

Gua Mahakarya, Giliyang

Gua ini ditemukan pada tahun 2014 oleh warga sekitar. Awalnya gua ini bernama Gua Celeng, karena sempat dijadikan tempat persembunyian babi hutan. Nama Mahakarya sendiri adalah nama yang diberikan warga sekitar, setelah gua tersebut ditinggalkan sang Celeng (baca: babi hutan). Keindahan batu stalaktit dan stalakmitnya yang masih hidup, membuat kita terkagum-kagum ketika sebagian dinding gua berkelap-kelip terkena cahaya. Ukuran gua yang lumayan panjang dan masih alami, memberikan sensasi petualangan yang lebih menantang. Dipandu langsung oleh warga sekitar yang sangat ramah dan akan memberikan penjelasan setiap bagian dari gua.

Gua Mahakarya Gili Iyang Sumenep(2)

Dinding Gua Mahakarya, Giliyang

Gua Mahakarya Gili Iyang Sumenep

Spot foto Gua Mahakarya, Giliyang

 

Batu Cangghe

Batu Cangghe Gili Iyang Sumenep (2)

Batu Cangghe, Giliyang

“Subhanallah, indah banget”. Sudah tak terhitung berapa kali kita mengucapkan kalimat tersebut ketika tiba di spot ini. Untuk mencapai spot ini kita harus berjalan kaki lumayan jauh. Namun semua rasa penat dan lelah terbayar lunas ketika disambut pemandangan seperti berikut.

Batu Cangghe Gili Iyang Sumenep (4)

Tangga menuju Batu Cangghe, Giliyang

Nama Batu Cangghe sendiri tercipta karena adanya batu yang berbentuk seperti tiang penyangga langit-langit. Menciptakan tebing extream yang terbentuk alami, menyerupai sebuah kardu santai yang tercipta dari bebatuan. Lautan biru yang terhampar di depannya, memberikan suasana tenang nan damai. Nggak berlebihan lah, kalau tempat ini diberi tagline “sekali nyampek, nggak mau pulang”. Awesome…

Batu cangghe Gili Iyang Sumenep

Batu Cangghe, Giliyang Sumenep

 

Bagaimana? Tertarik untuk mengunjungi Pulau Giliyang, Madura?

Untuk menuju ke Pulau Giliyang, kita bisa menuju ke pelabuhan Dungkek dengan angkutan umum kota. Dilanjutkan dengan perahu angkutan reguler yang hanya beroperasi pada jam tertentu (pukul 11.00 siang berangkat dari pelabuhan Dungkek – pukul 14.00 siang berangkat dari Giliyang). Tarif perahu sebesar Rp. 10.000,- s/d Rp. 20.000,- per orang atau Rp. 500.000,- untuk tarif carter. Sesampainya di pulau Giliyang, terdapat penyewaan kendaraan untuk berkeliling pulau dengan tarif Rp. 35.000,- (roda 2) dan Rp. 100.000,- (roda 3). Di pulau tersebut juga sudah tersedia Homestay bagi yang ingin menginap. (Sumber : pamflet pariwisata Sumenep)

Anam Nasrudin Choirul

Author: 

Seorang mahasiswa yang suka ngeblog

Related Posts

One Response

  1. zamsjourney09/03/2016 at 21:55Reply

    mantap bun tulisannya, apalagi ada photoku 😀

Leave a Reply

Buktikan kalau kamu adalah manusia! * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.