Desa Wisata Sema’an Hadirkan Pertunjukkan Ojung

 Budaya, Sosial, Sumenep

ojung-di-desa-semaan

Kamis siang itu tak seperti biasanya. Warga Desa Sema’an tak sabar menunggu tamu yang dijadwalkan akan berkunjung. Beberapa pelaku seni yang telah ditunjuk bersiap-siap dengan pakaian dan alat musiknya. Busana kaum lelaki memakai sarung, kemeja batik dan odheng di kepala. Kaum perempuan menggunakan sampir, kebaya dengan berkerudung. Sedangkan anak-anak memakai kaos loreng merah-putih khas suku Madura.

Mereka sudah biasa menyambut tamu. Namun kali ini berbeda. Ini adalah yang pertama sejak 18 bulan yang lalu. Desa Sema’an kembali aktif setelah sempat pasif karena berbagai alasan. Undangan dan ajakan dari BPWS untuk mengaktifkan lagi konsep desa wisata ini memberikan semangat baru bagi mereka.

Saat Plat-M dan rombongan peserta pelatihan BPWS datang ke sana, terlihat tak ada yang berbeda dengan dua tahun lalu saat Plat-M datang pertama kalinya bersama sembilan blogger dari Jawa Timur dan Jawa Tengah.

Mereka masih menyuguhkan batu cenneng sebagai tujuan utama, legenda sumber kanceng yang menarik, bagaimana acara nanggala, dan pertunjukkan baru mereka yaitu: Ojung.

Terlihat beberapa bapak-bapak yang sudah tua mempersiapkan dua orang bapak memakai pakaian khusus. Pakaian tersebut lebih cocok dikatakan pelindung tangan kiri dan kepala. Karena hanya tangan kiri dan kepala yang dilapisi beberapa sarung dan karung berwarna cokelat. Setelah pelindung sudah dipasang. Kedua bapak diadu saling pukul menggunakan alat yang terbuat dari bambu. Aturannya tidak boleh memukul kepala. Seorang sesepuh desa menjadi juri dan mengatur jalannya pertandingan. Ini bukan perkelahian juga bukan permainan. Ini adalah warisan tradisi masa lalu dari Desa Sema’an untuk memohon hujan. Baru boleh berhenti jika ada salah satu pemainnya luka dan mengeluarkan darah. Namun kemarin hanya bersifat pertunjukkan, maka pertunjukkan tradisi dihentikan berdasarkan waktu.

ojung-di-desa-semaan-2

Tradisi sudah lama tak dimainkan oleh warga desa. Kembali diangkat menjadi salah satu pertunjukkan untuk menghibur pengunjung Desa Wisata Sema’an.

Selain pengunjung, banyak warga yang menyaksikan tradisi kolosal ini. Bagian terpenting sebenarnya adalah bagaimana mereka menunjukkan tradisi leluhur ini kepada anak-anak penerus. Sehingga mereka bisa melihat dan merasakan langsung warisan tradisi leluhur mereka.

Desa Wisata Sema’an kembali bergairah. Semoga terus dapat berkreativitas sehingga mengundang tamu-tamu lain hadir berkunjung.

Wahyu Alam

Author: 

moslem – blogger – traveler – founder of @plat_m – UTM lecturer – book reader – social media – #ihateLate – t: @wahyualam – b: wahyualam.com

Related Posts

Leave a Reply

Buktikan kalau kamu adalah manusia! * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.