Cerita Gadis Miskin Ke Negeri Paman Sam

 Berita, Kampus, Madura

Teman-teman, Perkenalkan nama saya Nurir Rohmah, ini cerita saya dan semoga bisa memberi manfaat bagi yang lain. Di antara banyak yang dapat kesempatan ke USA saat saya masih menjadi mahasiswi di Jurusan Sastra Inggris Universitas Trunojoyo Madura. Saya juga diberi kesempatan ke negeri paman sam tahun yang lalu.

Mewakili jutaan anak-anak yang putus sekolah di seluruh dunia, saya ingin sedikit bercerita hari ini betapa beruntungnya saya. Bercerita tentang sebuah titik balik mengagumkan yang tidak pernah ada dan tidak pernah sekalipun terbersit dalam benak.

nurir

Saya tidak ingin berpanjang lebar. Saya ingin menceritakan sedikit pengalaman menakjubkan saya dua tahun yang lalu yang semakin membuat saya belajar bahwa saya bukanlah siapa-siapa. Bahwa saya hanyalah setetes air di samudra.

Subhanallah. Tahun 2011 yang lalu, tepatnya bulan Oktober, saya berkesempatan mengunjungi Negara yang menjadi “pamannya” dunia. Negara yang selalu disebut-sebut sebagai Negara superpower. Sudah bisa menebak kan?

Amerika. Iya Amerika. Amerika yang presidennya saat ini bernama Barack Obama. Percaya Saya saja sampai sekarang masih merasa seperti mimpi.

Akhir tahun 2010, saat saya sedang menjalani semester 5, saya dipertemukan oleh yang Maha Segalanya dengan sebuah beasiswa student exchange ke Amerika. Indonesia English Language Study Program (IELSP) adalah program pertukaran yang saya ikuti saat itu. Beasiswa ini disponsori langsung oleh US. Department of State. Peristiwa penting ini menjadi sejarah panjang yang tak akan pernah saya “museum” kan dalam sejarah perjalanan seorang gadis miskin seperti saya.

Bagaimana kok bisa ikut IELSP? Tahu darimana?

Awal perkenalan saya dengan IELSP ini adalah hal yang menurut saya aneh. Ketika itu, ada kakak kelas saya, Mbak Elena, disebut-sebut akan ke Amerika sekitar bulan maret 2011. Kalau tidak salah, waktu itu bulan September. Saya benar-benar bangga mendengar berita itu. Berita yang sangat fenomenal tentu saja. Bagaimana tidak, mbak Elena menjadi satu-satunya kandidat dari Madura waktu itu.

Termotivasi? Jelas. Terpacu untuk ikut? Jelas. Tapi tidak sedikitpun dalam benak saya muncul keinginan untuk benar-benar mendaftar. Saya hanya mahasiswi kere yang picik yang selalu menganggap bahwa perburuan beasiswa itu mahal, menguras tenaga, dan menyita waktu. Namun, beberapa teman saat itu sedang semangat-semangatnya ikut beasiswa tersebut. Jadi, ikutlah saya dalam puncak semangat mereka. Dan tiba-tiba tanpa kita perkirakan, sebulan (estimasi) setelah mbak Elena dinyatakan lolos, keluarlah pengumuman baru bahwa IELSP akan dibuka lagi untuk cohort 9. Apa itu cohort? Singkatnya cohort itu angkatan. Mbak Elena adalah cohort 8 waktu itu.

Lalu, di jurusan saya di sastra inggris, ada kemudian 7 anak yang menggebu-gebu ikut (saya termasuk). Di otak saya saat itu, berburu beasiswa bersama itu tak akan merasa capek. Dan mulailah kami mencari informasi tentang persyaratan mengikuti beasiswa tersebut. Ternyata, setelah agak lama mencari, keluarlah pengumuman resmi dari pihak yayasan bahwa persyaratan persyaratan yang harus kami penuhi adalah sebagai berikut; mengisi formulir, menulis beberapa essay yang terdapat dalam form (dalam bahasa inggris), serta mengirim hasil TOEFL ITP.

Nah, persyaratan terakhir ini yang agak sulit. Secara kita selama ini hanya ikut TOEFL prediction di kampus. Dan setelah mencari info kesana kesini, ITP TOEFL itu mahal. Jadilah saya patah arang. Sungguh. Karena saya merasa saya eman pada uang yang harus dikeluarkan. Dibenak saya, saya takut kalau saya tidak lolos. Akhirnya, saya mengurungkan niat saya untuk mendaftar.

Teman baik saya, Ifa, yang juga bersemangat ikut, terus memberikan saya motivasi untuk tidak patah semangat. Masalahnya, saya benar-benar dalam keadaan tidak punya uang waktu itu. Sedangkan, uang TOEFL itu sendiri sekitar IDR 300.000. bukan jumlah yang banyak sebenarnya, tapi bagi saya, jumlah itu bisa dipakai untuk membayar kos sebulan + makan sebulan juga. Saya merasakan dilema ketika itu.

Orang tua, akan selalu menjadi tempat berdiskusi yang indah. Karena pusing, saya pun bertanya, apakah kira-kira orang tua saya waktu itu mempunyai uang sebanyak uang tes diatas. Ternyata, Allah memudahkan jalan saya. Saya akhirnya bisa ikut karena orang tua saya memberi saya uang 300 itu. Betapa senangnya. Ketika itu, sudah bulan Desember. Sebulan sebelum deadline. Saya dan Ifa pontang panting mencari tempat tes yang murah. Walhasil, kami akhirnya mendaftar di UNAIR. Jadilah saat itu kami bolak balik Surabaya. Untung sudah ada Suramadu. Jadi ya lumayan mengefisienkan waktu perjalanan.

Saya ingat betul bahwa tes TOEFL waktu itu dilaksanakan tanggal 28 Desember 2010. Pengumuman diberikan 2 minggu setelahnya, yaitu sekitar tanggal 15 Januari 2011. Kami sudah takut saja, karena deadline pengumpulan berkas ke Jakarta itu tanggal 10 Januari. Tetapi untungnya, dalam formulir, terdapat pengecualian untuk yang baru ikut tes. Sehingga pihak Jakarta sendirilah yang akan menghubungi kampus dimana kami ikut tes. Jadi intinya, yang penting ikut dulu lah. Perkara lulus atau tidak, urusan belakangan. (FYI: TOEFL harus 450). Tapi ada kok teman saya yang tidak 450 tetep lulus. Jadi, ini bukan persyaratan mutlak.

Karena kegiatan organisasi dan pekerjaan paruh waktu yang saya jalani, saya keteteran mengisi seluruh kelengkapan administrasi. Walhasil, saya meminta Ifa untuk mengirim berkas terlebih dahulu. Tapi Alhamdulillah, tanggal 5 januari 2010, 5 hari sebelum deadline, saya akhirnya bisa mengirim berkas ke Jakarta. Sedikit tips saja untuk temen-teman yang ingin ikut beasiswa, 1) jangan ikuti apa yang saya lakukan. Artinya, kirimlah berkas jauh-jauh hari sebelumnya. Kalau bisa, sebulan sebelum deadline. Hehe. 2) buatlah essay semenarik mungkin yang bisa “menjual” temen2 sekalian. Eiitsss, menjual disini artinya positif loh. Bahwa temen2 harus bisa membujuk juri melalui tulisan temen2. Jangan berlebihan, jangan sedikit juga. Intinya membuat essay itu adalah jujur. Kalau kita anak tukang ojek, ya bilang tukang ojek. Kalau kita anak konglomerat, ya bilang anak konglomerat (tapi gak mungkin juga anak konglomerat mau ikut beasiswa).

Bulan berganti..

Hari itu bulan Februari awal. Jam 3 sore. Sebuah telpon berkode Jakarta masuk ke handphone butut saya. Padahal bukan dari pacar, tapi nervousnya minta ampun. Saya angkat dan suara seorang pria terdengar dibalik sana yang intinya mengatakan bahwa saya lolos ke babak interview. Whooooooaaaaa, rasanya sedikit takjub mengingat persiapan yang sangat minim waktu itu. Wawancara dilaksanakan di kampus UNAIR B. saya semakin nervous.

Interview saya cukup sial. Kenapa begitu? Karena saat itu saya sedang sakit parah. Kalau tidak salah kena tipus. Orang tua sudah meminta untuk tidak datang, tapi saya masih ingin sekali mencoba. Akhirnya, dengan wajah pucat, tubuh lemas, Ifa, yang juga lolos ke babak interview membonceng saya ke UNAIR. Angin laut di sepanjang suramadu membuat saya semakin lemas saja. Rasanya tak kuat waktu itu. Kalau bukan karena ingin ke amerika, saya tak mungkin segiat itu.

Saya ingat betul saat saya masuk ruang interview. Saya diwawancara oleh dua wanita paruh baya (mungkin seusia ibu saya) yang sangat cantik dan anggun. Saya tebak mungkin mereka dosen. Mereka sempat menanyakan apakah saya sedang sakit. Hehe. Ternyata ketauan juga. Tapi memang, waktu itu, penampilan saya sedikit amburadul. Saya dengan percaya diri memakai celana jins dan menggunakan jaket organisasi. Kalau diingat-ingat, sangat tidak sopan sekali. Buat temen-teman yang akan nanti mau ikut beasiswa dan lolos interview, sekali lagi, jangan ikuti apa yang saya lakukan, karena harusnya ketika interview, berpenampilanlah yang baik dan bersahaja. Ok!!

Dalam sebuah interview beasiswa ke luar negeri, biasanya kita akan diberi dua opsi, pakai bahasa atau English. Nah, saya dulu pakai dua-duanya. Jadi kalau kira-kira jawabannya agak susah, saya pakai bahasa Indonesia. Yang penting jangan maksa lah ya. Kalau gak bisa English, gak usah sok bisa. Kenapa? Kita juga yang rugi. Karena pada intinya, jawaban kita harus mengena dan sesuai dengan pertanyaan. Kalau sampai meleset hanya gara-gara english kita yang amburadul, susahlah kita. Makanya, sekali lagi, jujur pada diri sendiri. Tapi kalau memang temen-teman sudah mahir berbahasa Inggris, ya silahkan pakek full English. Itu malah bagus. Walaupun pada hakikatnya, pewawancara itu tidak mewajibkan hal tersebut.

Poin lain dari sebuah interview adalah, jangan menambah-nambahkan sesuatu. Lagi-lagi kuncinya adalah jujur. Kayak katanya KPK itu loh (JUJUR ITU HEBAT).. kalau di dalam essay kita nulis A, ya jawab A. jangan jawab Z. bisa pusing nanti pewawancaranya. Be yourself. Dan satu lagi, belajarlah sedikit-sedikit tentang daerah kalian. Karena siapa tau nanti ternyata pewawancara menguji kita tentang pengetahuan daerah kita (seperti kasus saya)..

Bulan Februari berlalu. Dan datanglah bulan maret.

Saya sudah hampir lupa waktu itu kalau saya sedang ikut program beasiswa. Sampai lupa untuk mengecek website yayasan. Sampai disebuah siang yang panas di kampus. Saya ingat betul bahwa saat itu sekitar jam satu lewat dan saya baru saja melaksanakan sholat dzuhur. Dan sebuah telpon berkode (021) masuk.

Saya: halo, assalamu’alaikum.

Mbk cici: halo, waalaikum salam. Nurir ya?

Saya: iya benar mbak. Ini dari siapa ya?

Mbak cici: saya cici dari IIEF. Nurir gimana kabarnya?

Saya: (tangan bergetar dan keringat dingin mengucur) baik mbak. Ada yang bisa saya bantu?

Mbak cici: gini, mbak mau Tanya, nurir kira-kira rencana lulus kapan ya?

Saya: rencananya pertengahan 2012 mbak kalau lancar.

Mbak cici: oh gitu ya, Ngomong-ngomong, nurir kemaren daftar IELSP ya?

Saya: iya mbak. Benar. Ada apa ya mbak? (semakin degdegan)

Mbak cici: selamat ya kamu keterima. Kamu lolos. Kamu terpilih untuk ke Amerika.

Subhanallah. Segala puji bagi-Nya yang tak pernah tidur untuk hamba-Nya. Saya langsung sujud syukur. Air mata saya tidak keluar. Entah kenapa. Mulut saya tak bisa berkata-kata sedikitpun. Sejurus setelah dinyatakan diterima, kata-kata yang bisa keluar dari mulut saya hanya kata “iya:. Sehingga Mbak Cici (program assistant) saat itu sampai geli mendengar jawaban saya.

Setelah telpon ditutup, saya langsung memberi kabar kepada semua keluarga dan teman-teman. Rasanya hati saya mau pecah karena terlalu senang. Saya berterima kasih yang sebesar-besarnya pada Allah SWT yang meneguhkan saya akan segala hal dan memberikan saya amanah yang besar.

***

Silahkan download hasil wawancara Plat-M dengan dosen-dosen di UTM yang berhasil meraih beasiswa ke luar negeri dalam sebuah catatan sederhana diber judul: Be A Good Student

Fendi Chovi

Author: 

Fendi Chovi, senang menulis dan jalan-jalan. Pernah bekerja di korankabar.com Berkesempatan menghadiri ASEAN Blogger Festival dan sederet kegiatan blogger baik tingkat nasional dan daerah. Saat ini aktif di komunitas blogger Plat-M, Madura dan Komunitas Lintas Agama Young Interfaith Peacemakers Community Indonesia (YIPCI). Cita-citanya ingin punya karya yang diterbitkan Kompas Gramedia. Boleh berbagi di twitter @fendichovi

Boleh berkunjung ke blog : mapping-map.blogspot.com

Related Posts

Leave a Reply

Buktikan kalau kamu adalah manusia! * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.