Catatan Karapan Sapi 2013

 Budaya, Sosial

Sebagai komunitas, apalagi komunitas onliners seperti blogger, kami tidak takut untuk melakukan apapun, demi mengangkat tradisi, budaya, sejarah, dan seluruh potensi yang ada di Madura.

Awalnya hanya Sabtu-Minggu. Menjadi tiga hari setelah dilanjutkan hari Senin. 30-31 Maret s/d 1 April 2013. Itulah tiga hari yang patut dibanggakan bagi kami.

Pasang banner di tengah malam

 

Waktu sudah masuk 30 Maret 2013. 5 jam sebelum matahari terbit, kami sudah berada di lapangan Skep untuk melihat lapangan yang akan digunakan untuk Karapan Sapi. Gelapnya lapangan, gatalnya rumput ilalang tidak menjadi halangan kami untuk sekadar memasang banner ucapan selamat datang. Kami mempersiapkan untuk menyambut tamu agung kami, yaitu para pemilik Sapi dan tentu menyambut kedatangan turis lokal ataupun internasional untuk berkumpul menyaksikan ajang karapan sapi perdana di 2013 yang juga menjadi pertama kalinya bagi kami, Plat-M.

Banner selamat datang

Sabtu, 30 Maret 2013. Mentari pagi menyengat kulit. Beberapa truk mulai berdatangan dengan menurunkan sapi-sapi yang siap bertanding. Beberapa orang berkaos panitia dari PERKASA sudah menyiapkan segala peralatang perang untuk memulai karapan sapi. Peserta yang datang dari seluruh Madura langsung menurunkan sapi dan menuntunnya untuk mengitari lapangan. Seperti ajang warming-up di olahraga manusia. Alunan saronen ikut memeriahkan suasana dan seakan memberikan semangat kepada sapi. Pun pedagang yang sebenarnya tidak kami undang resmi bersiap dengan segala jualannya.

Stadion Karapan Sapi H. Moch Noer aka Lapangan Skep

Hari pertama, yang ditandingkan adalah sapi kelas kecil. Kami Plat-M membantu sesuai job desc, bekerjasama dengan PERKASA. Beberapa perlengkapan sponsor kami dirikan. Tidak lupa kami mengabarkan karapan sapi 2013 ini ke semua akun sosial media yang kami punya.

Hari begitu singkat, sore sudah menjelang. Semakin sore, penonton semakin ramai. Terlihat beberapa fotografer dari luar Madura juga datang. Entah tahu darimana, mungkin saja tahu dari sosial media. Karena kami memang tidak memasang banner apapun sebelum acara. Murni promosi kami lakukan via sosial media, radio lokal dan cara konvensional, mulut ke mulut.

Hari pertama yang mempertandingkan kelas sapi kecil usai dan berlangsung meriah.

Minggu, 31 Maret 2013. Di kawasan Jl. Pertahanan, Bangkalan cuaca sedikit bersahabat. Beberapakali mendung menaungi lapangan Skep. Pemandangan berbeda 180 derajat dari hari pertama. Hari kedua ini pengunjung sudah memadati tribun stadion karapan sapi H. Moch. Noer ini. Penjual makanan juga terlihat lebih banyak. Sapi-sapi yang diturunkan dari truk lebih besar dari sapi di hari pertama. Fotografer juga terlihat semakin banyak dari hari pertama. Singkatnya, hari Minggu lebih ramai dari hari pertama.

karapan sapi 2013

Sapi Kerap

Satu per satu sapi melaju dengan seluruh kekuatannya. Otot-otot sapi yang besar terlihat begitu mempesona. Teriakan joki yang mengarahkan lari sapi menyeruak berbarengan dengan teriakan penonton.

Telihat juga dua orang bule yang semangat memotret sapi-sapi yang bersiap beradu cepat. Sempat diwawancara, keduanya berasal dari Rusia dan tahu informasi ini dari seorang siswa di Surabaya.

Menjelang sore, penonton semakin ramai memadati lapangan Skep. Acara ini memang gratis. Semuanya bisa masuk tanpa tiket. Menjadi hiburan tersendiri bagi masyarakat yang menikmati liburan akhir pekannya bersama keluarga. Sayang, karapan sapi belum usai. Akhirnya harus dilanjutkan hari Senin.

Terlepas dari hasil akhir penentuan juara, karapan sapi 2013 berjalan dengan lancar dan sukses. Ajang perdana ini menjadi pelega dahaga para pemilik sapi kerap di Madura. Setidaknya ini adalah ajang pertama karapan sapi yang diadakan swasta. Bukan sponsor atau pemerintah. Bersama PERKASA, kami iktu melestarika tradisi budaya Madura. Ini tradisi leleuhur yang tidak boleh punah. Bagaimanapun, para pemelihara harus tetap semangat memelihara sapi kerap. Ajang ini setidaknya mengangkat kembali tentang karapan sapi di Madura masih bisa bergeliat. Dan Madura belum kehilangan tradisi leluhurnya. Madura masih mempunyai sejuta tradisi yang harus tetap dilestarikan.

Wahyu Alam

Author: 

moslem - blogger - traveler - founder of @plat_m - UTM lecturer - book reader - social media - #ihateLate - t: @wahyualam - b: wahyualam.com

Related Posts

One Response

  1. Bocah Petualang26/04/2013 at 12:00Reply

    Jadi pengen cepat-cepat upgrade kamera dan beli lensa tele 😀
    Btw, pengumuman pemenang lomba blog ga diumumkan di blog ini?
    Oh ya, kapan-kapan adakan lomba fotografi juga dong #ngarep

Leave a Reply

Buktikan kalau kamu adalah manusia! * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.