Bin-Sabin, Penanda Kepemilikan dalam Tradisi Madura

 Sosial

Bin-sabin

Apa yang pernah disampaikan oleh Ernst Cassirer benar adanya, bahwa manusia adalah animal symbolicum atau hewan yang penuh simbol. Coba perhatikan sekeliling Anda. Akan banyak Anda temukan simbol-simbol dalam kehidupan manusia, entah itu menyangkut masalah sosial, ekonomi, agama, dll. Contoh sederhana, saat kita berada di pasar, lalu bertemu dengan seorang pengemis, maka mula-mula otak kita akan mengasosiasikannya dengan status ekonomi si objek. Dengan gampang kita akan menganggap bahwa orang tersebut miskin.

Nah, dari sini kita bisa menelisik apa sebenarnya fungsi paling sederhana dari sebuah simbol, yaitu membuat suatu kesimpulan berdasar asosiasi yang ditimbulkan oleh simbol tersebut. Umumnya kesimpulan itu berangkat dari kebiasaan yang diulang-ulang dalam kehidupan masyarakat. Mengapa si pengemis disebut miskin? Jawaban paling sederhana adalah karena umumnya orang yang mengemis karena terbelit urusan ekonomi.

Urusan simbol ini memang agak pelik, karena asosiasi yang ditimbulkan terkadang tidak sesuai dengan fakta yang terjadi di baliknya. Kita bisa temukan kenyataan bahwa tidak semua orang yang mengemis adalah orang yang miskin. Justru terkadang mereka punya barang-barang mewah karena pekerjaan mengemis. Itu soal lain yang tak akan saya bahas lebih panjang.

Saya hanya akan menyampaikan salah satu istilah persimbolan dalam tradisi Madura, yaitu bin-sabin. Istilah ini digunakan untuk menandai sebuah kepemilikan atas sesuatu. Dengan adanya simbol-simbol tertentu, orang akan tahu bahwa benda tersebut ada pemiliknya. Mengambilnya sama saja dengan mencuri.

Jika memperhatikan ladang di beberapa daerah di pelosok Madura, Anda akan temukan beberapa janur dan pelepahnya yang ditancapkan di atas hamparan rumput yang hijau. Janur tersebut diambil bagian ujungnya saja. Penanda tersebut menyiratkan makna bahwa orang tidak boleh menyabit rumput di situ. Rumput tersebut sudah ada pemiliknya.

Contoh lain dari bin-sabin ini adalah batu. Jika Anda menemukan batu yang diletakkan di atas kelapa, mangga, atau buah-buahan lainnya yang sudah jatuh, maka Anda tidak boleh mengambilnya karena itu sudah ada pemiliknya.

Persoalan bin-sabin ini juga tak hanya menyangkut masalah moral (pencurian), tapi juga dihubung-hubungkan dengan hal-hal gaib. Ada kepercayaan yang berkembang dalam masyarakat bahwa orang yang mengambil barang ber-bin-sabin, maka orang tersebut akan menderita sakit perut atau pusar. Apakah ini benar? Entahlah, persoalan semacam ini memang terkadang sulit dibuktikan secara ilmiah. Namun, dalam beberapa kasus memang terjadi hal demikian.

Sistem tanda dalam bin-sabin tidak hanya dipakai untuk urusan benda-benda semacam di atas, tapi juga untuk hubungan antar manusia. Pertunangan sering juga disebut sebagai bin-sabin, yang berarti bahwa lelaki lain tidak boleh mengganggu perempuan yang sudah bertunangan.

Author: 

Orang Sumenep, Madura | http://www.fahrur.com | @demokrozi |

Related Posts

One Response

  1. rotyyu23/07/2014 at 21:54Reply

    Gitu ya, baru tahu. Kalau hanya dengan simbol seperti ini bisa patuh, kenapa sulit sekali utk menaati peraturan? Apa mungkin krn tradisi ini selalu diiringi kepercayaan magis yg bisa berakibat buruk? Rasanya tidak juga, toh peraturan memiliki konsekuensi hukuman.

Leave a Reply

Buktikan kalau kamu adalah manusia! * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.