Bedug Masjid Jami Sumenep

 Sejarah, Sumenep

masjid agung sumenep

 

Salah satu ciri unik lainnya pada bangunan masjid jamik Sumenep yaitu pada masa awal pembangunannya tidak adanya sebuah minaret atau menara untuk tempat mengumandangkan adzan.

Sebagai gantinya gunakanlah sebuah bedug berukuran besar untuk memanggil orang-orang untuk sholat. Kala itu bedung menjadi alat komunikasi paling penting untuk menandai dan merayakan momen-momen keagamaan.

Pada umumnya bedung terbuat dari sebuah batang pohon yang dikeruk, dan direntangkan pada salah satu atau kedua sisinya dengan sebuah kulit kerbau. Pukulan bedung tak hanya sebagai penanda waktu shalat saja, lebih dari itu bedug dipukul sebagai penanda waktu awal dan akhir bulan puasa, dan juga hari raya. (Lombard, 1996 : 456)

Suara bedung akan terdengar berkilo-kilometer tergantung dengan ukuran dan besarnya bedung. Ukuran bedung di Masjid Jamik sendiri lebarnya kurang lebih setinggi orang dewasa dan diletakkan disebuah ruangan yang terdapat diatas pintu gerbang utama.

Adanya bedung pada masjid-masjid kuno di Nusantara merupakan salah satu pengaruh dari arsitektur China, sebagaimana penggunaan bedung yang terdapat diserambi-serambi bangunan Klenteng. (Budiman, 1979 :40)

Pustaka :
– Lombard, Denys. 1996. Nusa Jawa : Silang Budaya . Gramedia Pustaka Utama . Jaringan Asia
– Budiman, Amen. 1979. Masyarakat Islam Tionghoa di Indonesia, Penerbit Tanjungsari. Semarang
– Nas. J.M Peter. 2009. Masa Lalu dalam Masa Kini Arsitektur di Indonesia. Gramedia. Jakarta

Foto :
Bedug diatas gapura Masjid Jamik Sumenep 2013 | dok fnf-sepoeloe

Sumber:
❝ SONGENNEP TEMPO DOELOE ❞

Wahyu Alam

Author: 

moslem – blogger – traveler – founder of @plat_m – UTM lecturer – book reader – social media – #ihateLate – t: @wahyualam – b: wahyualam.com

Related Posts

Leave a Reply

Buktikan kalau kamu adalah manusia! * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.