2 Jam Dialog Budaya Tentang Madura

 Bangkalan, Budaya, Madura, OTEMA, Sosial

Latief Wiyata adalah salah seorang pakar mengenai budaya Madura, pria kelahiran sumenep yang mengajar di FISIP Universitas Jember ini juga menjadi reviewer Dikti. Sebagai pakar masalah kemaduraan, Latif Wiyata adalah penulis artikel di sejumlah Media Massa sekaligus penulis buku, bukunya yang mashur yang di ambil dari desertasinya adalah mengenai “ carok” di pulau Madura.

Tanggal 2 juli 2012, beliau memberikan kuliah umum mengenai budaya Madura di ruang RKB D Universitas Trunojoyo Madura (UTM) yang diprakarsai oleh Fakultas Ilmu Sosial dan Budaya (FISIB) yang dihadiri berbagai mahasiswa di lingkungan Civitas akademika UTM.

Beberapa Hal Yang Beliau paparkan mengenai budaya Madura di antaranya meliputi pengertiaan budaya itu sendiri, menurutnya pengertiaan budaya adalah “merupakan seperangkat nilai-nilai yang dianut bersama-sama secara turun temurun dan merupakan pedoman atau acuan dalam bersikap, bertindak, dan berfikir dalam kehidupan keseharian penganutnya”.

Perilaku masyarakat dalam kehidupan sehari-hari cenderung dilatar belakangi oleh banyak hal entah masalah cultural ataupun aspek religiusitas. Dengan mengimplementasikan itu, maka mereka akan mendapat reward atau punishment dari masyarakat.  Berbagai aspek budaya yang ada di dalam masyarakat Madura meliputi :

  1. Religi (Agama)
  2. Ilmu pengetahuaan
  3. Perkawinan dan kekerabatan
  4. Organisasi sosial dan kemasyarakatan
  5. Ekonomi (Mata Pencaharian)
  6. Keseniaan dan bahasa

Salah satu yang di sampaikan oleh beliau dalam makalahnya adalah mengenai Religi Atau Agama. Orang Madura sudah dikenal sebagai orang yang beragama islam yang taat. Itu sebabnya nilai-nilai agama islam menjadi rujukan utama bagi hambir semua aspek dalam kehidupan mereka, termasuk peran seorang kyai.

Bahkan dalam hal Ilmu Pengetahuaan, anak-anak di Madura sudah semenjak kecil disuruh untuk mencari ilmu dan mengaji Al-Quran, agar mereka bisa mendapatkan pembelajaran mengenai etika, bahkan di Madura bagi orang –orang yang tidak sopan dalam hidup bermasyarakat entah remaja ataupun orang tua, bisa dikatakan orang yang tidak mengenal tak battonna langgar kata-kata ini bisa di artikan orang yang tidak pernah belajar etika karena tidak pernah pergi mengaji.  Mungkin mereka kurang sopan karena belum pernah pergi ke institusi pendidikan yang di Madura di kenal dengan Langgar atau surau yang digunakan sebagai tempat belajar.

Bahkan dalam soal Perkawinan Dan Kekerabatan, orang Madura juga pada dasarnya bersifat Kin Group Endogamy. Tujuan itu adalah untuk memelihara kekerabatan antar keluarga. Seperti ungkapan Mapolong Tolang dari berbagai keturunan. Sehingga keturunan yang satu bisa tetap dalam satu tempat karena hubungan kerabat. Menurutnya, “ system kekerabatan orang Madura mencakup sampai ke empat generasi ke atas (ascending generation) dan ke bawah (descending generation) dari ego.

Organisasi Sosial Kemasyarakatan (institusi sosial) pada dasarnya adalah sebagai media demi menjaga integritas dan solidaritas sosial. Ketika terjadi konflik maka keberadaan institusi ini sangat penting perannya terutama dalam mencari solusi dan memandamkan terjadinya pertikaian satu dengan yang lain, tetapi di Madura institusi seperti itu, menurut sepengetahuaan Latif wiyata belum di temukan di dalam masyarakat Madura, hal yang berbeda dengan masyarakat bugis. Kebanyakan organisasi kemasyarakatan dan budaya Madura pada umumnya yang berorientasi pada nilai-nilai keagamaan (mamaca/ macopat atau perkumpulan diba’ maupun perkumpulan Tadurus Al-Quran.

Ekonomi (Mata Pencaharian) cara orang Madura dalam mencari nafkah (mata pencahariaan) berkaitan erat dengan etos kerja mereka. Orang Madura dikenal ulet, tekun, pantang menyerah, semangat. Sehingga memunculkan akar-kar colpek, namun saying, etos kerja ini jarang dilakukan di dalam lingkungan orang Madura sendiri, akan tetapi meskipun demikian, orang Madura tetap memiliki semangat todus apabila tidak bekerja sehingga menjadi factor penyemangat diri.

Kesenian Dan Bahasa

Kesenian dan bahasa Madura berkaitan erat, keduanya adalah bagian dari akultusasi. Salah satu bentuk kesenian yang terkenal adalah kerapan sapi. Salah satu hal yang perlu disoroti dalam penggunaan bahasa Madura yang mulai bergeser, banyak orang Madura yang tidak suka menggunakan bahasa Madura, dan juga secara lisan banyak ditemukan perkataan yang berdialek luar Madura. Dalam penulisannya pun telah mengalami perbedaan dengan yang selama ini dianggap baku.  Misalnya : ajalan menjadi ajelen

Bahkan beberapa pengamat merasa galau dengan fenomena ini, karena bahasa Madura terlihat dinamis, mengikuti perkembangan masyarakat pendukungnya. Orang Madura pun terlihat pragmatis, serta tidak mau ribet, baik dalam permainan bahasa lisan maupun tulisan sebagai proses pengayaan bahasa Madura. Sehingga dengan itu, maka bahasa Madura menjadi bahasa yang mudah untuk diadaptasi ke dalam bahasa Indonesia, sebagai upaya untuk memperkayaan bahasa nasional.

Fendi,

Tulisan diatas adalah sebagian dari isi makalah seminar “Budaya Madura” yang diolah kembali dengan berbagai modifikasi

Fendi Chovi

Author: 

Fendi Chovi, senang menulis dan jalan-jalan. Pernah bekerja di korankabar.com Berkesempatan menghadiri ASEAN Blogger Festival dan sederet kegiatan blogger baik tingkat nasional dan daerah. Saat ini aktif di komunitas blogger Plat-M, Madura dan Komunitas Lintas Agama Young Interfaith Peacemakers Community Indonesia (YIPCI). Cita-citanya ingin punya karya yang diterbitkan Kompas Gramedia. Boleh berbagi di twitter @fendichovi Boleh berkunjung ke blog : mapping-map.blogspot.com

Related Posts

2 Responses

  1. TONGKONANKU05/07/2012 at 00:19Reply

    Selama ini yang paling saya ingat dari orang madura adalah logat bahasanya yang khas dan seni karapan sapi. 🙂

  2. fendi Author

    fendi04/07/2012 at 14:54Reply

    Tulisan ini akan menambah lagi konten lokal mengenai Madura, Ayo, rame-rame tulis mengenai madura, tretan !

Leave a Reply

Buktikan kalau kamu adalah manusia! * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.